Keselamatan Reform dan Orthodox

Nama: Geralda Aprillia Salindeho

Mata Kuliah: Dogmatika 4

Tugas: 6

Berbicara mengenai keselamatan dari Gereja Timur dan Gereja Barat. Gereja Timur berbicara berdasarkan inkarnasi dan wahyu yang jelas-jelas Allah menampakan daging di dalam Yesus Kristus. Kalau Gereja Barat berdasarkan filsafat yaitu filsafat Skolastika menurut pendapat Amsal dari Katembori. Keselamatan di dalam Gereja Timur bukan karena pembenaran tapi pemulihan kodrat dan manunggal dengan Allah. Gereja Barat berbicara tentang transaksi hukum (Yudisial) jadi menurut Amsal manusia jatuh ke dalam dosa dan tidak berkenan kepada Allah sehingga membuat Allah murka. Kehadiran Allah yang marah ini harus dibayar sesuai oleh sebab itulah harus dibayar. Karena manusia tidak ada yang bisa membayar maka Anak Allah yaitu Yesus Kristus dihukum oleh Allah untuk memuaskan keadilan Allah dengan dihukum di atas kayu salib sehingga orang yang percaya kepada Yesus maka orang tetrsebut akan dibebaskan tapi yang dilihat disini Yesus bukan orang yang percaya. Karena dilihat dari Yesus Kristus maka manusia tidak punya kehendak bebas ini yang sering disebut bejat total. Karena manusia bejat total maka manusia tidak bisa memilih percaya atau tidak sehingga Allah yang memilih (Predestinasi). Ajaran Wesley juga percaya pada ajaran bejat total.

Iman Orthodox bukan dari Kristen modern tapi dari Bapa-Bapa Gereja berasal dari pedoman Pengakuan Iman Nikea yang melalui konsili-konsili sudah disahkan oleh gereja. Keputusan bersama gereja bukan pendapat perorang yang akhirnya menjadi pagar bagaimana iman Orthodox dilindungi. Dari denominasi Protestan dilihat manusia telah jatuh ke dalam dosa sehingga natur manusia kodratnya dosa sedangkan di Orthodox dosa seperti benalu yang menempel kepada manusia karena natur manusia adalah gambar dan rupa Allah.  Di dalam Kej. 1:26-27 Para Bapa Gereja menetapkan ayat ini sebagai hakekat dari pada manusia. Jika manusia diciptakan menurut Allah itu yang menyebabkan Allah menjadi manusia yaitu Yesus Kristus menjadi prototype manusia (Kol. 1:16). Manusia juga memiliki sifat dari Allah yaitu kekekalan atau keabadian dan seharusnya manusia memang diciptakan tetapi tidak ada akhir karena kekekalan. Kekekalan, keadilan, kasih dll adalah hal yang hanya dimiliki manusia dan tidak dimiliki binatang. Gambar adalah foto sedangkan rupa adalah wajah manusia. Jadi manusia bukan hanya mereflesikan Allah tetapi juga menjadi seperti Allah. Karena manusia diciptakan Allah sejak kekal di dalam dirinya adalah kasih jadi sebelum dunia di jadikan Allah Tritunggal saling mengasihi jadi ada cinta kasih timbal balik (Yoh. 17: 24).

Di dalam konteks cinta kasih Allah (Rom. 5:5). Roh Kudus yang kekal berfungsi untuk mencurahkan kasih kepada manusia ketika manusia telah diciptakan (Ibrani 9:14). Oleh karena itulah Allah mengasihi putra melalui Roh kudus dan putra mengembalikan kasih Allah melalui Roh Kudus untuk itulah hakekat Allah adalah kasih (1 Yohanes 4:8; 16). Jadi didalam Calvinisme memakai kedaulatan Allah. Di dalam butir pertama Pengakuan Iman Nikea “Aku percaya kepada satu Allah yang maha kuasa” disini terlihat bagaimana Allah sangat berkuasa akan tetapi kasih tidak akan dapat terlepas dari pada Allah. Oleh karena itu kita tidak melihat Allah dari pada filsafat yang Maha Kuasa tapi dari Tritunggal jadi terserah Allah mau lakukan apa saja.

Kasih Ilah yang kekal itu ada di dalam diri Allah padahal kasih itu bersifat menjangkau keluar sama seerti manusia kalau kita mengasihi seseorang seperti “Aku cinta padamu” atau kado, jadi kasih tidak hanya berdiam di dalam diri hal ini sama seperti Allah yang mempunyai kasih di dalam dirinya ingin menjangkau keluar padahal tidak ada orang lain diluar dirinya. Pada saat inilah baru Allah menunjukan ke-Maha Kuasa-anNya yaitu menciptakan makhluk hidup yang didalamnya ada Yesus. Jika hal ini disangkut pautkan dengan kesematan di dalam predestinasi. Kita harus ingat bahwa kasih Allah mengendalikan kedaulatan Allah. Oleh sebab itulah kita harus lihat di dalam Mat. 25:41 bahwa Allah hanya menyiapkan neraka untu iblis dan malaikat-malaikatnya oleh sebab itulah manusia tidak diciptakn di dalam predestinasi karena manusia diciptakan untuk dapat menikmati kasih Allah di dalam kekekalan. Tujuan manusia diciptakan untuk dapat mengambil bagian dari pada kodrat ilahi (2Petr. 1:4).

Jika kita anak Allah seharusnnya kita menjadi seperti Allah walaupun masih samar-samar dan keselamatan bukan hanya diselamatkan tapi ambil bagian di dalam dia atau theosis (1Yoh. 3:2). Itulah tujuan Allah menciptakan manusia dengan manusia memiliki kehendak bebas Allah tahu ada resiko mansuia mau menerima Allah atau tidak jadi bukan Allah yang menetukan. Contohnya di dalam Kej. 2:16-17 yang dengan jelas Allah memberi pilihan untuk dapat makan atau tidak dan kemudian di ayat 17 Allah memberikan perintah dengan penuh kehendak bebas pada saat itu dapat dilihat bahwa manusia sedang berada di persimpangan jalan. Karena manusia tidak mematuhi Allah manusia akan mati hal ini bukan karena Allah menghukum tapi memang pilihan dari pada manusia sendiri.

Di dalam Yohanes 1: 1; 3 mengigatkan di dalam Firman dan anak Allah manusia dan alam semesta diciptakan (Ibr. 1:2). Allah telah mengantisipasi dengan menyiapkan prototip dari pada manusia jika manusia tidak bisa naik untuk theosis dan yang dipilih Allah adalah Yesus Kristus untuk menjadi sarana penebus (1Petr. 1:20). Jadi, Allah kerjanya tidak tambal sulam. Jadi manusia tidak bisa saling menghujat dan membunuh tidak pandang agama apapun menunjukan bahwa mansuai masih kodrat yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah dosa adalah sesuatu yang menempel pada manusia (Yak. 3:9). Jadi akibat dari pada kejatuhan manusia adalah maut yang menjalar kepada setiap keturunan manusia (Rom. 5:12).

Ketelanjangan membuat sinar yang ada di dalam diri Adam hilang akhirnya mansuai menjadi lapuk2, tua dan binasa. Biasanya di didalam Rom. 3:10-18 diambil untuk mendukung pendapat calvin mengenai bejat total merupakan kutipan-kutipan dari pada perjanjian lama contohnya di dalam Mazmur 14:1-3 dan Maz. 53:2-4; maz. 5:10; maz. 10:7; Yes. 59:7-8; Maz; 56:2. Di samping berbicara mengenai mati secara fisik terdapat juga pendapat mati secara Roh yang dimaksud disini adalah orang yang mati karena terpisah dengan Allah (ef. 2:2; mat. 8:21-22). Di dalam Ef. 4:17 dikatan bahwa kehidupan kita harus diisi dengan hal-hal yang bermanfaat agar kehidupan kita tidak berakhir dengan kesia-siaan. Amin!

Referensi: Video Romo Daniel Biyantoro dari Keselamatan Reform dan Orthodox

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started