The Book of Mystical Chapters_Meditations on The Soul Ascent,from the desert fathers and another early Christian Contemplatives- Shambhala (2003) McGuckin, John Anthony

Nama: Geralda Aprillia Salindeho

Mata Kuliah: Etika Kristen

Tugas: 7

47

If you pray truly,

you will discover great confidence,

and angels will come to you

as they once came to Daniel, [DAN. 2:19]

and they will enlighten you

about the inner meaning of created existences.

—Evagrios of Pontus

47

Jika Anda berdoa dengan benar,

Anda akan menemukan keyakinan besar,

dan malaikat akan datang kepadamu

sebagaimana mereka pernah datang kepada Daniel, [DAN. 2:19]

dan mereka akan menerangi kamu

tentang keberadaan yang diciptakan.

— Evagrios dari Pontus

48

Just as sight is the most important of all the senses,

so is prayer the most divine of all the virtues.

—Evagrios of Pontus

48

Sama seperti penglihatan adalah yang paling penting dari semua indra,

Demikianlah doa yang paling penting dari semua kebajikan.

— Evagrios dari Pontus

49

When you stand in prayer

and feel that no other joy can be compared to it,

then you have indeed discovered true prayer.

—Evagrios of Pontus

49

Ketika Anda berdiri dalam doa

dan merasa bahwa tidak ada sukacita lain yang dapat dibandingkan dengan hal itu,

maka Anda sesungguhnya telah menemukan doa yang benar.

— Evagrios dari Pontus

50

How beautiful is a head that is adorned

with a priceless diadem

set with clusters of Indian gemstones and pearls.

But incomparably more beautiful is a soul

that is rich in the knowledge of God

and illuminated by the most radiant contemplation,

for it has the Holy Spirit dwelling within.

Who could ever properly tell of the beauty

of such a blessed soul?

—Theodoros the Ascetic

50

Betapa indahnya kepala yang dihiasi

dengan mahkota yang tak ternilai

diset dengan sekelompok batu permata dari India dan mutiara.

Tapi dapat dibandingkan jauh lebih indah adalah jiwa

yang kaya akan pengetahuan dari Allah

dan diterangi oleh kontemplasi/perenungan yang paling bercahaya,

karena hal itu membuat Roh Kudus berdiam di dalamnya.

Siapa yang bisa selalu benar menceritakan keindahan

jiwa yang diberkati seperti itu?

— Theodoros sang pertapa

51

The fragrance of an expensive perfume,

even when it is kept in its jar,

will permeate every room in a house,

delighting not only the owners

but even the neighbors as well.

So it is with a saintly soul, loved by God,

for its fragrance will emanate

through all the senses of its body,

making known to those who can discern

the holiness that lies hidden within.

—Theodoros the Ascetic

51

Aroma semerbak dari parfum yang mahal,

bahkan ketika disimpan dalam guci,

akan meresasi setiap ruangan di rumah,

tidak hanya menggembirakan pemiliknya

tetapi bahkan tetangga juga.

Demikianlah halnya dengan jiwa yang suci, dikasihi oleh Allah,

karena aromanya akan memancarkan

melalui semua indera tubuhnya,

bagi mereka yang dapat memperbedakan

kekudusan yang tersembunyi di dalam.

— Theodoros yang pertapa

52

When you are in love,

surely your constant concern

is to be near the beloved

at any and every opportunity,

and you avoid anything that would hinder you

from being in the company and society

of your loved one.

So it is when someone loves God.

One constantly desires

to be with him and speak with him.

This can only be achieved through pure prayer,

so let us apply ourselves to prayer

with all our strength, for it makes us become like the Lord.

This is the meaning of the scripture that says:

“O God, my God, I cry to you at dawn;

my soul has thirsted after you.” [PS. 63:1 LXX]

This person who cries to God at dawn

signifies the spiritual intellect

that has withdrawn from every evil

and that has been wounded to the heart

by the love of God.

—Theodoros the Ascetic

52

Ketika Anda sedang jatuh cinta,

pasti Anda keprihatinan konstan

adalah untuk berada di dekat yang tercinta

pada setiap dan setiap kesempatan,

dan Anda menghindari apa pun yang akan menghalangi Anda

dari berada di dalam perusahaan dan masyarakat

kekasih Anda.

Jadi itu adalah ketika seseorang mengasihi Allah.

Satu terus-menerus keinginan

bersama Dia dan berbicara dengannya.

Ini hanya dapat dicapai melalui doa yang murni,

Jadi marilah kita menerapkan diri kita untuk berdoa

dengan segenap kekuatan kita, karena itu membuat kita menjadi seperti Tuhan.

Ini adalah arti tulisan kiatab suci yang berbunyi:

“Ya Allah, Engkaulah Allahku,

Aku Mencari Engkau, Jiwaku Haus Kepada-Mu,

Tubuhku Rindu Kepada-Mu,

Seperti Tanah Yang Kering Dan Tandus,

Tiada Berair. ” [MAZMUR 63:1 LXX]

Orang yang berseru kepada Allah pada saat fajar

menandakan keintelek spiritual

yang telah ditarik dari setiap kejahatan

dan yang telah terluka ke jantung

oleh kasih Allah.

— Theodoros yang pertapa

53

When love carries off the intellect to ecstasy

in mystical knowledge of the Divine

and it stands apart from existent realities,

it then becomes aware of the infinity of God.

It is at that moment, as Isaiah tells us,

that it is utterly outside itself

nd comes into a profound sense of its own smallness.

In its wonder it repeats the words of the prophet:

“Alas for me, for I am wounded in the heart.

I am a man of unclean lips,

dwelling among a people of unclean lips,

and I have seen the King, the Lord of Hosts,

with my own eyes.” [ISA. 6:5]

—Maximus the Confessor

53

Ketika cinta membawa NOUS ke ekstasi

pengetahuan mistik tentang ilahi

dan itu berdiri terpisah dari realitas yang ada,

itu kemudian menjadi sadar akan ketidakberhinggaan dari Allah.

Pada saat itu, seperti yang dikatakan Yesaya,

bahwa itu sama sekali di luar dirinya

datang ke dalam rasa yang mendalam dari kepicikannya sendiri.

Dalam ketakjubannya itu mengulangi perkataan Nabi:

“Lalu kataku: “Celakalah aku! aku binasa!

Sebab aku ini seorang yang najis bibir,

dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir,

namun mataku telah melihat Sang Raja,

yakni TUHAN semesta alam.” [YESAYA 6:5]

— Maximus sang Confessor

54

Blessed is that spiritual intellect

that travels beyond all existent realities

and comes into the endless delight

of the divine beauty.

—Maximus the Confessor

54

Berbahagia adalah NOUS

yang bergerak melampaui semua realitas yang ada

dan datang ke kenikmatan tanpa akhir

dari keindahan ilahi.

— Maximus sang Confessor

55

Do not despise Christ’s commandment of love,

for it is the means by which you can become

the child of God.

—Maximus the Confessor

55

Janganlah meremehkan perintah Kristus akan kasih,

karena itu adalah sarana yang melaluinya Anda dapat menjadi

Anak Allah.

56

The perfect peace of the holy angels

derives from their two fixed attitudes:

their love of God and their love for each other.

The same applies to the saints of all the ages.

This is why it is most truly said:

“On these two commandments

hang all the Law and the Prophets.” [MATT. 22:40]

— Maximus sang Confessor

56

Kedamaian sempurna dari para malaikat kudus

berasal dari dua sikap mereka yang tetap:

kasih mereka kepada Allah dan kasih mereka bagi satu sama lain.

Hal yang sama berlaku untuk para orang suci dari segala usia.

Inilah sebabnya mengapa hal ini paling benar berkata:

“Pada kedua perintah ini

menggantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. “[MATT. 22:40]

— Maximus sang Confessor

57

A person who has attained such a state of love

that their whole existence is ordered by it

is the one who can say,

“Jesus is Lord,” in the Holy Spirit. [1 COR. 12:3]

—Maximus the Confessor

57

Seseorang yang telah mencapai keadaan kasih seperti itu

bahwa seluruh eksistensi mereka diperintahkan oleh hal ini

adalah orang yang bisa berkata,

“Yesus adalah Tuhan,” dalam Roh Kudus. [1 KOR. 12:3]

— Maximus sang Confessor

58

The whole purpose of the Savior’s commandments

is to liberate the intellect

from its malice and crudeness

and to lead it into his love

and into love of one another.

Out of this love shines

the radiance of mystical knowledge

that God’s holy power makes possible in us.

—Maximus the Confessor

58

Seluruh tujuan dari perintah Juruselamat

adalah untuk membebaskan NOUS

dari kedengkian dan kekasaran

dan untuk membawanya ke dalam cintaNya

dan ke dalam cinta dari satu sama lain.

Dari cinta ini bersinar

pancaran pengetahuan mistik

bahwa kekuatan Kudus Allah memungkinkan di dalam kita.

— Maximus sang Confessor

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started