Eksegesis Matius 8:1-4 & Doa Bapa Kami

Nama: Geralda Aprillia Salindeho

Mata Kuliah: Eksegesis PB

Tugas: 8

1 Setelah Yesus turun dari bukit, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia.

 2 Maka datanglah seorang yang sakit kusta kepada-Nya, lalu sujud menyembah Dia dan berkata: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.”

 3 Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya.

 4 Lalu Yesus berkata kepadanya: “Ingatlah, jangan engkau memberitahukan hal ini kepada siapapun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah persembahan yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka.”

Terjemahan Literal


1Ketika Ia turun dari gunung orang banyak mengikuti Dia

2Dan lihatlah seorang sakit lepra atau kusta datang dan menyembah (bersujud sampai muka sampai ketanah) dihadapan Yesus dan berkata “Tuhan, jika kamu menghendaki kamu bisa mentahirkan atau meyucikan aku.

3Dan Yesus mengeluarkan tangannya menyentuh Dia dan berkata “Aku mau, tahirlah” Dan seketika itu juga dia ditahirkan dari kustanya.

4Dan Yesus berkata kepada dia, lihatlah, Jangan memberitahukan siapapun, pergilah tunjukkan dirimu kepada imam dan bawalah bagimu sebuah korban seperti yang diperintahkan Musa, sebagai bukti atau kesaksian bagi orang-orang.

Sematic Content

Kejadian yang terjadi pada saat itu tergambarkan jelas di dalam Matius 7: 28-29 mengenai alasan dari orang banyak mengikuti Yesus dikarenakan mereka takjub dengan pengajaran Yesus yang melebihi dari pada hukum Taurat. Sampai diceritakan pada ayat 2 bahwa Yesus menyembuhkan orang yang sakit kusta. Terdapat di dalam Imamat 13:14 keberadaan dari pada orang kusta dianggap najis dan mereka merupakan orang yang diasingkan dari masyarakat. Seorang Imam bertugas sebagai orang yang menyatakan orang terkena penyakit atau tidak (Ul. 24:8) tetapi di dalam Perjanjian Baru Yesus mengambil tempat sebagai seorang imam dan mentahirkan orang kusta. Orang kusta dianggap merupakan hukuman dari dalam dosa yang dia lakukan, orang yang menyentuh mereka akan najis (Im. 7:21).

Ketidakuntungan dari pada orang yang terkena penyakit kusta. Pertama, dia tidak bisa bersosialisi. Kedua, dia tidak bisa masuk ke rumah ibadah. Akan tetapi, jika kita melihat tertulis bahwa Yesus mengambil peran dan mengatakan “tahirlah” berarti sekarang orang kusta itu tidak hidup di bawah hukum taurat lagi melainkan di bawa belas kasihan Yesus. Di katakan disitu bahwa Yesus “menyentuh” tetapi Yesus tidak menjadi najis, itulah cara Yesus menggenapi hukum taurat serta tidak tahluk di bawah hukum taurat.

Yesus memberikan perintah ini untuk meyakinkan kepada imam. Disini menjelaskan bawah Yesus memiliki keimamannya yang lebih besar dari pada segala imam. Kasih adalah kegenapan dari pada Hukum Taurat, ini merupakan satu serpihan kecil dari pada kasih yang lebih besar yaitu pengorbabn dari Yesus Kristus (Rom. 13:10).

Spiritual Meaning: Yesus dapat menyentuh orang tersebut. Pergilah è Menunjukan bahwa Yesus lebih tinngi dari imam. “Aku mengkehendakinya” jadi orang yang bisa mengalahan humun taha. Spiritual dari orang yang terkena kusta: Orang yang tersingkir. Hanya memiliki harapan terhadap Kristus yang menimbulkan iman, dan datang kepada pengharapan karena kita adalah mansuai berdosa.

Iman + humility = Confession of faith

Jika sudah disembuhkan kenapa dia perlu untuk memberikan persembahan kepada imam? Ini bukan soal Yesus yang plin plan tetapi untuk kembali memulihkan hidup dari pada orang yang terkenah kusta. Ini merupakan pemulihan secara total yaitu secara jiwa dan sosial.  Chrysostom mengatakan “Menunjukan bahwa Yesus itu menggenapi hukum taurat dengan cara yang baru yang akhirnya terjadi suatu kesembuhan” berarti disini pentahiran itu menunjukan dua hal yaitu kuasa anak Allah dan kuasa belas kasihan.  Jadi kalau kuasa anak Allah menang atas penyakit berarti menang atas dosa sedangkan kuasa Anak Allah berkuasa.

Chrysostom say “Yesus mengatakan untuk jangan mengatakan kepada siapapun tetapi datanglah kepada imam dan berikan persembahan” dari sini Yesus tidak menginginkan pemujaan dari pada manusia tetapi yang diajarkan adalah kita harus memiliki hati yang bersyukur. Dari teks ini diajarkan tentang hati-hati tentang kemuliaan yang kosong dan hendaklah berikan ucapan syukur. Ayat. 4 Ketika Yesus mengatakan aku mau, tahirnya! Yesus menyembuhkan hanya dengan kuasa kata-katanya jadi perkataan Yesus adalah perkataan yang memiliki kuasa.

Jadi Yesus hanya bisa menyembuhkan dari perkataan dan kehendak dari pada Yesus tanpa harus mengatakan “sembuhlah”. Selain itu Yesus kehendak, perkataan dan tangan yang menunjukan bahwa Yesus tidak takut terhadap Hukum Taurat bahwa tidak ada sesuatu yang najis yang dapat menajiskan Dia. Lalu apakah Yesus menjadi najis dan terkena kusta? Tidak dan tubuh orang kusta itu menjadi murni oleh tangan yang kudus sehingga Dia datang bukan hanya menyembuhkan tubuh melainkan jiwa yang sakit.

Bede say “YEsus menyuruh dia pergi ke para imam agar pera imam tau bahwa dia tahir bukan karena hukum taurat tetapi melalui anugerah dan yesus merupakan imam yang lebih besar. Hanya melalui tangan juruselamat dikeluarkan merupakan typology dari pada inkarnasi Yesus yang dinamakan firman yang menjadi daging. Jadi orang lepra ini bukan hanya pembersihan secara gading tetapi jiwa. Jadi hanyala firman Allah yang menjadi manusia yang dapat membersihkan manusia dari pada dosa dan membersihkan mereka yang telah lama diabaikan, dikucilkan dan diusir. Dan dia bisa mempersembahkan korban kepada imam kalau kita mempersembahkan hidupa kita sebagai persembahan yang hidup.

Outline Consept Teologis

Kesembuhan orang sakit kusta

  1. Yesus: Imam yang sejati yang mentahirkan orang kusta
  2. Yesus: Lebih berkuasa atas hukum taurat.
  3. Imam yang lebih besar dari Musa
  4. Kegenapan hukum taurat (dari im. 7:21 bdg Mat. 8:3) dengan kuasa Allah (Menang atas dosa) dan Belas kasih.

Aplikasi:

Orang sakit kusta

Seperti orang kusta yang memberikan persembahan korban kepada imam kita juga harus memberikan persembahan yang hidup kepada Tuhan yaitu seluruh kehidupan kita.

Matius 6:9-13

Doa Bapa Kami

Bapa kami

  1. Our Father/ Bapa Kami= menunjukan relasi antara Yesus dan Allah Bapa yang menyatakan Ke-Tritunggal-an.
  2. Our = menujukan bahwa kita dengan Yesus mempunyai Bapa yang sama yaitu Allah. Jadi kalau disebut Bapa menunjukan bahwa anak Allah dan jika Yesus adalah Anak Allah kita juga merupakan anak-anak Allah. Kalau kamu berkata Bapa Kami kita memiliki hak istimewa untuk memanggil Allah Bapa. Yang membuat kita punya hak untuk memanggil Allah Bapa karena kita telah diadopsi oleh Allah (Gal. 4:4-7) da nada ROh kududs yang ada di hati kita yang terus berteriak “OUR FATHER”. Ay. 7 Kita menjadi ahli waris melalui Kristus, kita bukan lagi hamba melainkan anak. Jika mengadopsi ini dilakukan secara sengaja ini adalah pekerjaan Roh Kudus. Kita menyebut bapa karena Kristus yang menebus, mengadopsi kita di dalam Roh Kudus.

Kita berdoa secara Trinitas artinya kita memangggil Allah itu Bapa karena kristus menebus dan mengangkat kita sebagai bapa dan kita bisa menyebut Dia bapa karena karya Roh Kudus.

Pendapat Church Fathers

Cyprian say “Berdoa itu sperti sahabat dan keluarga memanjatkan doa kepada Allah sendiri. Kita menyebut bapa ada hubungan seperti anak dan kita memiliki Dia sehingga kita dapat berdoa kepada pembela kita yaitu Yesus dan doa-doa kita akan diterima oleh Bapa.

Crysostom say “Tidak ada seorangpun memanggil Allah itu Bapa, tapi Dia yang sudah memiliki Bleesing karena kita sudah diampuni dosa dan diadopsi kita menjadi satu keluarga. Panggil Allah Bapa kita mengaku telah melakukan pengampunan dosa, ahli waris, menjadi keluarga sama sperti Kristus dan medapat karunia sama seperti Kristus.

Yang disurga

  1. Doa kita dipanjatkan dari bumi ke surga. Kita ingat bahwa tidak selamanya dibumi kita harus perlahan naik menuju ke surga (Kol. 3:1-3). Mengingatkan kita bahwa kita harus mencari perkata-perkara yang disurga.

Pendapat Chuch Father

Chrysostom say: bahwa kita memiliki Bapa surgawi jadi kita harus meninggalkan perkara duniawi karena kita memiliki Bapa yang punya segala-galanya di surga. Ini juga bukan tentang Allah ada di mana tetapi kita harus menarik pikiran kita dari bumi ke hal-hal yang di surga.

Agustinus say: Kita adalah bagian dari orang-orang kudus yang ada di sana. Karena kita orang yang berasal dari bumi yang adalah dosa sedangkan kita menyebut surge yang kudus jadi kita harus menjadi orang kudus yang ingin mencapai surge itu. Ini doa antara dosa dan kebenaran atau surge dan bumi. Diri kita yang adalah orang berdosa yang pada akhirnya akan naik ke surge yang kudus. Jadi bukan hanya perkataan saja melainkan diri kita juga naik ke atas. Kita orang yang berdosa harus jadi orang benar.

Dikuduskanlah NamaMU

  1. Ini berhubungan “kata di surge” jadi kalau kita memikirkan perkara diatas berarti kita harus memikirkan dan menguduskan namaNya yang kudus. Atau menguduskan Allah dalam artian kita juga harus menguduskan diri. Jadi bagaimana kita menjadi orang yang suci dan orang yang kudus.

Pendapat Chuch Fathers

Agustinus say: Jadi menyebut namanya di dalam doa artinya begitu kita menybut namanya dia tinggal dan ada. Sekarng kita melihat bukan nama Allah itu belum kudus itu menunjukan bahwa manusia yang perlu untuk dikuduskan. Sehingga Allah bisa dikenal tidak lain bahwa Dia adalah kudus jadi kita juga harus kudus.

Chrysostom say: Bagi kita dikuduskan menunjukan bahwa Allah dimuliakan, itu adalah doa dari manusia kepada Allah berarti Allah dimuliakan dan ditiggikan di dalam kita.

Cypirian say: Jadi kalau kita sebut dikuskanlah namamu kita juga harus hdiup kudus(Im. 20:7). Kita memintda dan memohon di dalam babtisan kita memakai kekudusan dan menajaga kekudusan itu. Oleh sebab itu ketika berdoa kita sudah tau bahwa kita butuh pengudusan sehari-hari supaya kita yang berdosa melakukan pengudusan terus menerus.

Datanglah KerajaanMu/ kerjaanMu datang

  1. Allah Tritunggal datang atau turun kalau dosa kita dipanjatkan kepada hal disurga maka permohonan kita akan didengar dan dia akan turun untuk menolong kita karena dia adalah Allah yang imanen dan Allah yang trasenden. Di dalam doa kita ada perjumpaan dengan Allah.

Pendapat Chuch Fathers

Cyprian say: Kerajaan yang dijanjikan kepada kita yaitu kerajaan Kristus. Ini jununjukan pengorbanan Kristus yang sebelumnya kita di dunia seperti hamba dosa yang sekarang menjadi hamba Kristus. Kita berdoa untuk Yesus dapat datang dan Yesus akan memimpin di dalam kerajaan diri kita.

Agustinus say: kerajaan Allah datang mau kita suka atau tidak tetapi yang terpenting kita mau nggak dikuasai oleh kerajaan Allah itu. Dan akhirnya kita bisa memerintah bersama dengan Dia.

Jerome say: Kita tidak lagi takut kepada penghakiman karena kita berdoa kepada kerajaan Allah.

Jadilah kehendakMu di bumi

  1. Kehendak kita dikuasai oleh kehendak Kristus sama sperti dia menguasai bumi ini dia juga menguasai diri kita. Yesus menjadi raja atau tidak di dalam kehidupan kita, kehendak Kristus didalam kehidupan kita. Kita menjadi kerajaan surge yang kecil di dalam kehidupan kita.

Pendapat Church fathers

Jerome say: Kerajaan yang ada di dalam diri kita sehingga kita tidak lagi kalah di dalam kerajaan iblis dan dosa tidak lagi memerintah di dalam kita. Ini berbicara mengenai kekudusan hidup. Diperintah oleh Kristus.

Referensi: Catena Aurea

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started