Nama: Geralda Aprillia Salindeho
Mata Kuliah : Etika Kristen
Tugas: 10

48. Celestial beings are immortal because they have divine goodness within them; whereas earthly beings have become mortal because of the self-incurred evil within them. This evil comes to the mindless through their laziness and ignorance of God.
48. Makhluk surgawi adalah abadi karena mereka memiliki kebaikan ilahi didalamnya; sedangkan makhluk duniawi telah menjadi fana karena kejahatan yang timbul sendiri dalam diri mereka. Kejahatan ini datang kepada orang-orang yang tidak berpikiran akan kemalasan dan ketidaktahuan mereka akan Allah.
Penjelasan: Orang-orang yang tidak memiliki Nous adalah pribadi yang malas, dan tidak peduli akan Allah. Jadi jika diteliti lebih dalam Kitab Suci akan menjelaskan bahwa Nous menghasilkan pikiran-pikiran atau yang disebut dengan logismoi. Manusia akan mengerjakan setiap hal yang di dalam Nous. Di dalam Amsal dikatakan: Apa yang manusia pikirkan ketika bangun di pagi hari itulah kepribadiannya. Itulah sebabnya kita harus mengontrol pikiran. Kita hrus jadi orang yang memiliki NOUS, memiliki hati yang dikontrol dan pikiran-pikiran jahat ysng terkontrol. Untuk itulah kita perlu membaca buku Philokalia yang merupakan sekolah doa dari hati, surge para bapa-bapa gereja. Jika kita adalah para teolog seharusnya kita melakukan dari semua hal yangbtelah kita pelajari. Jiwa, Kristus, anugerah dan Nous adalah hal-hal tidak kelihatan yang menghidupkan hal-hal yang kelihatan. Hidup ini dikontrol Allah yang tidak kelihatan dan anugerah yang tidak kelihatan menghidupkan setiap manusia.
Apa itu Nous?
Sangat sulit untuk dijelaskan. Kadang kala sering diterjemahkan dengan intelek, pikiran dan akal budi. Nous kadang-kadang disebut juga sebagai spiritual vision. Yang dapat memahami kebenaran. Nous dapat ditumbuhkan kembangkan melalui study, pelatihan fakulti, berdoa, puasa dan pelatihan kehidupan. Nous adalah pusat dari kehidupan kita. Yang mau dimengerti pada saat ini adalah misteri kedalaman Nous yang bukan hanya program otak saja. Hal itu yang harus disentuh oleh anugerah. Nous adalah tujuan dari spiritual yang membuat kita hidup dalam kebenaran. Nous sebagai hegemonikon atau sebagai pemimpin atas dirinya sendiri. Karena manusia jatuh di dalam dosa manusia akhirnya Nous takluk terhadap nafsu. Hanya melalui anugerah Allah dan latihan manusia dapat disembuhkan dan disempurnakan. Keselamatan merupakan proses terus menerus supaya Nous tidak dikendalikan oleh hawa nafsu melalui kuasa Roh Kudus.
Hesychios mengemukakan hal yang baik tentang Nous dan Musa:
Musa sang pemberi hukum taurat merupakan ikon dari pada NOUS. Dimana ketika Musa melihat Allah di dalam semak yang terbakar kemudian wajahnya bersinar, dia juga menerima hukum taurat, dia dijadikan mempunyai kekuatan Ilahi (Kel. 7), dia membunuh orang Mesir dengan menakutkan, dan dia memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan, jika kita melihat ini secara metafora ini adalah gambaran dari pada NOUS.
- Musa bawa keluar bangsa Israel à Nous membawa keluar kita dari dosa.
- Melihat Allah di semak terbakar à Nous dapat melihat Allah.
- Membunuh orang mesir à Nous membunuh nafsu jahat.
- Musa menerima hukum taurat à Nous membawa kita bertekun didalam kitab suci.
Seperti Musa Nous juga dipanggil dan diberikan energy yang Ilahi untuk menjadi pemimpin dari pada diri kita yang seperti sebuah kerajaan. Karena diri kita adalah kerajaan maka Nous berfungsi sebagai raja. Raja tidak dapat memimpin sendiri untuk itulah dibantu oleh para menteri. Perdana menteri dan menteri adalah hukum Allah, doa, ibadah, perjamuan kudus, membaca Alkitab yang menolong raja agar memerintah dengan baik. Nous seumpama egeminikon yang merupakan supir yang mengarahkan kerajaan. Mata disini mengarah kepada mata batin yang mengendalikan seluruh tubuh (Mat. 6:22-23). Jika dahulu Nous kita berisikan nafsu pelan-pelan seharusnya diisi dengan pikiran Kristus sebab kita telah memakai pakaian Kristus. Jadi kalau kita sudah memakai pakaian Kristus yang dapat mengendalikan diri kita maka tubuh kita akan menjadi kerajaan yang berkenan di hadapan Allah. Paulus say: Bukan lagi aku yang hidup melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Nous adalah fakulti tertinggi didalam hidup kita. Reason adalah akal pikiran harus dibedakan dengan Nous. Nous tidak perlu dibuktikan dengan debat tentang Allah karena Nous itu dapat dialami melalui doa.
Tuhan sudah menetapkan untuk menempatkan Nous pada manusia sejak lahir. Oleh sebab itulah manusia tinggal memilih mau melakukan yang baik atau tidak. Untuk itulah Nous tidak dimiliki oleh setiap orang yang tidak memilih melakukan hal yang baik di dalam kehidupannya. Intelek adalah suatu hadiah dari Allah yang menyelamatkan jiwa kita. Intelek bukan nous tetapi suatu pemberian dari Allah. Yang berjalan bersama Allah dan yang menolong jiwa untuk mengarahkan jiwa kepada keinginan yang kekal. Intelek mengajari manusia ketika dia masih di dalam tubuh ketika dia menerima dan kontemplasi. Intelek menolong jiwa manusia.
Intelek yang dimurnikan adalah mata rohani. Seperti yang Yesus ucapkan Mat. 6:22-23. Mata jasmani menerima hal-hal dari luar. Sedangkan intelek dimurnikan dan menerima Allah maka jika mata jasmani melihat hal-hal materi sedangkan intelek membuat kita melihat hal-hal rohani. Jadi di balik penganti dari sebuah buku intelek memiliki sebuah pena. Intelek kita akan dipimpin oleh Roh yang akan membuat hati kita murni kepada mereka yang mendengar kemudian akan menangkap kebenaran dan melalui Roh Allah membuat kita menjadi orang yang hidup didalam kebenaran. Nous kita membuat kita melihat hal-hal yang pribadi. Sehingga Nous dapat dicemplungkan di dalam hati kita. Dan akan membuat mata jasmani kita yang kadang lebih cenderung kepada hal-hal yang bersifat kedagingan akan diperbaharui dan akan mengarahkannya kepada hal yang berkenan kepada Allah. Amin!
Referensi: Controling and Controlling Thought According to the Father of the Philokalia and The Philokalia By St Nikodimos Of The Holy Mountain On the Character of Menand on the Virtuous Life.