
Pada chapter sebelumnya telah dibahas mengenai Allah yang adalah misteri. Allah yang tidak dapat diartikan dengan pengertian manusia menunjukan bahwa pribadi Allah tidak dapat dibatasi oleh apapun yang ada di muka bumi ini. Begitu banyak teolog dan orang percaya yang ingin memaparkan tentang Allah yang misteri tersebut. Pada bagian ini akan membantu setiap orang percaya untuk dapat mengerti sedikit mengenai Allah Tritunggal yang merupakan hal mendasar iman Kristen. Allah yang satu didalam 3 pribadi sering disalah artikan oleh setiap orang percaya. Di dalam pengakuan Iman Rasuli, Pengakuan Iman Nikea maupun berbagai pengakuan iman di dalam setiap deniminasi gereja pada butir pertama selalu dimulai dengan kata “ aku percaya kepada satu Allah”. Ini berarti Allah yang kita percayai seharusnya satu dan kita seharusnya percaya akan hal itu. Jadi kita dapat mengetahui Allah itu satu karena kita percaya. Akan tetapi ada satu realitas yang sangat menarik bahwa Allah yang satu ini disebut tiga juga, ini sebenarnya menunjukan ada keberagaman di dalam kesatuan. Divercyty tetapi juga unity. Allah yang kita percaya itu bukan hanya satu kesatuan tetapi juga berada didalam satu kesatuan. Jadi Dia bukan satu pribadi tunggal tetapi suatu komunitas.
Tri unit atau tiga dalam satu – kesatuan. Tiga pribadi yang satu, yang berarti satu mendiami yang lain. Di dalam kekekalan Allah yang adalah komunitas ini mengerjakan hal mendasar yang memang ada di dalam diriNya yaitu saling mengasihi maka itulah dikatakan Allah itu kasih. Sehingga di dalam tiga pribadi dan didalam satu kesatuan itu ada kasih ini yang sering disebut juga Perichoresis. Di dalam Yohanes 17: 21 mengambarkan Perichoresis itu berarti saling mendiami (bapa di dalam Aku dan Aku didalam Bapa). Banyak pertanyaan yang timbul dari setiap orang percaya maupun tidak percaya mengenai Ke- Tritunggal-an Allah Yanng Maha Esa itu. Mengapa kita harus mempercayai Allah itu satu tetapi tiga itu? Padahal lebih gampang mempercayai Allah itu satu seperti yang dipahami Yahudi dan Islam!!!
Untuk menjawab setiap pertanyaan tersebut Vladimir Lossky mengatakan “ini merupakan beban salib yang Allah berikan kepada kita. Oleh sebab itu kita memerlukan metanoia/ pertobatan. Tetapi kalau kita tidak mendekati Allah dengan iman maka pertobatan tidak akan terjadi.” Pengertian Tritunggal ini dibutuhkan kerendahan hati, kemauan untuk berubah dengan sungguh- sungguh dari pikiran dan hati kita. Allah yang Tritunggal ini harus benar- benar dipahami dan dialami secara pribadi. Ketidakmengertian dari setiap orang percaya mengenai Allah yang sesungguhnya, seharusnya menunjukan lebih nyata lagi bahwa Allah itu benar- benar mystery. Ini yang menyebabkan kita, sebagai orang percaya seharusnya terus belajar dan mengenal Allah dari hari lepas hari.
Allah yang mystery ini menyatakan diri secara personal kepada setiap orang percaya. Jika Allah adalah person atau pribadi jangan artikan seperti pribadi yang ada didalam diri setiap manusia. Allah adalah kasih, kalau Allah adalah pribadi dan dikatakan ada 3 pribadi, jika Allah adalah kasih maka Allah saling berhubungan satu sama lain. Jadi dikatakan Allah adalah person and love maka Allah itu saling mengasihi. Jadi benar jika Allah adalah kasih maka Allah memang saling mengasihi jika Allah hanya satu pribadi maka Allah tidak bisa mengasihi, oleh sebab itulah Allah memiliki 3 pribadi. Jadi kalau Allah hanya tunggal bukan tritunggal, tidak mungkin Allah itu kasih karena tidak ada hubungan. Kasih itu dinyatakan melalui hubungan.
Abba Joseph Of Panepho memberikan pertanyaan “Untuk dapat membaca alkitab, berpuasa dan berdoa yang sempurna apa yang harus saya lakukan?”…. Kemudian Abba Joseph menjawab “ dengan megarahkan jarinya kelangit dan memacarkan terang. Jadi ketika kita mau memahami Allah itu maka kita dapat melihat jari- jari yang menjadi terang tetapi jika itu ditarik maka tidak ada terang lagi. Ini menunjukan bahwa kita bisa mengenal Allah karena terang Allah. Tiga pribadi dari Allah itu seperti api atau terang itu. Contohnya: kita dapat melihat sinar matahari yang bersinar terang, seperti itulah kita melihat Allah tetapi ketika kita semakin berusaha mendekati maka mata manusia semakin silau sampai tidak nampak apa- apa dan bisa saja buta, jadi pengenalan akan Allah seharusnya membuat kita semakin merendahkan diri bukan semakin sombong!
Three person in One Essence
Tiga pribadi itu adalah Bapa, Putra dan Roh Kudus. Sedangkan satu esensi adalah Allah Bapa.
Kata person jangan samakan dengan individu manusia. Bukan person secara psikologis yang menyatakan ini “aku” yang punya kaki, tangan dan lain sebagainya. Tritunggal berarti satu essesse yang memiliki tiga personal. Didalam Yohanes 10:30 “Aku dan Bapa adalah satu” kata “satu” disini memakai kata ἕν adalah netral, “Aku” disini adalah Yesus Kristus. Kata “satu” disini menunjukan kepada person dari tiga pribadi yang ada bdk 1 Kor. 8:6 kata satu εἷς disini menunjukan pribadi Allah yang adalah Bapa jika diparsing noun, nominative, masculine singular common. Jadi person disini adalah Bapa yang merupakan Allah yang satu. Masculine disini menunjukan kepada Bapa. Berarti di dalam Allah yang Esa yang merupakan Allah yang satu itu Bapa. Bapa adalah pribadi tetapi Allah yang satu. Allah yang satu itulah yang kita sebut dengan essens sedangkan Bapa yang disebut dengan person. Jadi Three person itu adalah Bapa, anak dan Roh Kudus sedangkan One Essence adalah Bapa atau Allah yang Esa itu.
Allah adalah sumbernya. Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah satu esensi. Jadi tidak ada yang lebih besar ataupun lebih kecil. Tetapi sumber esensinya dari Bapa. Jadi satu esensi tidak hanya itu tetapi masing- masing unik yang disebut pribadi maka dibedakan Bapa, Anak dan Roh Kudus.
Ilustrasi: Ada 3 orang yang memiliki pribadi yang berbeda tetapi memiliki esensi yang sama sebagai manusia. Tetapi bedanya di dalam Allah Tritunggal tiga person itu tidak terpisah. Melainkan saling mendiami. Ware mengatakan “Ada perbedaan tetapi tidak ada perpisahan”, ini didukung oleh ayat Alkitab Yohanes 10:30.
Kenapa 3 pribadi ini disebut Allah yang Esa? Karena ketiga- tiganya memiliki esensi yang satu tetapi memiliki tiga person. Mereka hanya memiliki satu kehendak tetapi tidak terpisah, mereka memiliki perbedaan tetapi tidak terpisah. Mereka bukan tiga Allah tetapi satu Allah!
Penting kita juga memahami bahwa kata “anak” dipahami secara literal. Ini bukan seperti manusia yang melahirkan anak. Menurut Gregory Of nyssa menulis:
Segala sesuatu berasal dari Dia, tetapi kita melihat pewahyuan itu dari anak, sehingga apa yang dimiliki Bapa itu juga yang dimiki anak. Seluruh keberadaan anak tinggal di dalam Bapa, sehingga dia memiliki seliruh keberadaan Bapa di dalam Anak seperti yang terdaat didalam Kolose 2:9 “Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan,” ini berarti anak tidak terpisah menjadi Bapa. Berarti kalau anak telah jadi manusia berarti Bapa disurga apakah bisu? Tidak karena Bapa dan anak tidak terpisahkan. Bapa di dalam anak dan anak didalam Bapa begitu juga dengan Roh Kudus. Yang selalu ada dimanapun Bapa dan anak berada. Jadi dia yang menerima Bapa pada saat yang sama menerima Anak. Jadi tidak dapat memotong- motong Allah Tritunggal yang adalah satu kesatuan. Melihat Bapa berarti melihat anak, melihat Anak berarti melihat Bapa. Ini karena mereka saling mendiami. Jadi kalau Roh Kudus mendiami seseorang berarti Bapa dan Anak juga ada didalam kamu. Jadi diantara ketiganya ada sharing community, perbedaan dari ketiganya tidak menyebabkan tiga natur yang memiliki satu essensi. Jadi kalau kita membicarakan Allah Tritunggal: tiga pribadi didalam satu esensi tetapi satu person.
Allah Tritunggal bukan konsep atau teori tentang Allah melainkan keberadaan diri Allah yang diwahyukan oleh Roh Kudus kepada Church Fathers.
Personal Characteristic
Person pertama dari Trynity adalah Allah adalah Bapa, dari Bapa itulah muncul anak dan Roh Kudus. Pribadi kedua, adalah “perkataan” atau firman. Kalau berbicara anak maka secara kekal Bapa memperanakan Anak sebelum inkarnasi di dalam kekekalan. Pribadi ketiga, Roh Kudus keluar dari Bapa secara kekekalan. Tetapi ketika Roh Kudus diutus oleh anak kedunia saat pentakosta Allah tidak terpisah.
The Two Hand Of God
St. Ireneus berbicara bahwa anak dan Roh Kudus adalah dua tangan Allah untuk berkarya didalam penciptaan (Maz. 33:6).
- Creation, segala sesuatu diciptakan melalui FirmanNya (Maz. 33:6). Yang menjadi sebagai salah satu tangan Allah adalah Yesus Kristus yang merupakan Anak Allah dan Firman Allah.
- Incarnation, Pada saat Maria sebelum mengandung Bapa mengirim Roh Kudus untuk menguduskan Maria dan membuat benih di dalam kandungan Maria (Luk 1:35).
- The Babtism of Christ, Allah berkarya di dalam babtisan Yesus Kristus melalui suaranya dengan mengatakan “inilah anak yang kukasihi…” dan pada saat yang bersamaan Roh Kudus turun ke atas Yesus menyerupai Roh Kudus (Mat. 3:16-17).
- The Transfiguration of Christ, pada saat Yesus bertransfigurasi terdapat awan dan awan merupakan kehadiran dari Roh Kudus (Mat. 17:5; Luk. 9:34)
- The Eucharistic Epislesis, di dalam perjamuan kudus Allah Tritunggal menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan.
Living the Trinity
Doa harus dinyatakan dengan bertindak. Apa yang dimaksud dengan doa yang muri? Seharusnya kita sadar bahwa ketika berdoa kita bukan hanya menghafal mengenai Allah yang seperti apa dan bagaimana berdoa dengan baik kepada Allah. Tetapi kita seharusnya dapat melihat sisi sesungguhnya dari Allah, Allah adalah satu kesatuan tentang kasih karena adalah Allah yang kasih. Ada integral dari Allah Tritunggal. Yaitu kasih yang tidak dapat dipisahkan oleh apappun juga. Kasih bukanlah sifat dari pada Allah melainkan Allah itu sendiri. Kehidupan Allah Tritunggal sebelum penciptaan sampai pada penciptaan dan akan kekal selamanya adalah saling mengasihi satu sama lain. Allah bersama dengan orang – orang kudus di surga juga memiliki kehidupan untuk mendoakan semua orang percaya yang masih berjuang di dunia dengan penuh kasih.
Personal
Sebelum dunia dijadikan apa sih pekerjaan Allah? Ini merupakan pertanyaan yang sering sekali dipertanyakan oleh setiap orang. Saling mengasihi!!! Itu adalah jawaban yang tidak dapat disangkali oleh siapapun. Allah adalah kasih. Ini bukanlah sifat Allah melainkan Allah adalah kasih itu sendiri. Penulis begitu merenungi hal ini mendapatkan fakta yang luar biasa dan inipun seperti menegur penulis secara pribadi. Jika Allah adalah kasih maka penulis yang adalah gambar dan rupa Allah juga seharusnya memiliki kasih Allah didalam kehidupan penulis dari hari kesehari. Komunitas Allah yang begitu saling mengasihi dimana Allah mengasihi Anak, Anak mengasihi Allah dan Roh Kudus sebagai penyalur dari kasih Allah menjadi bayangan serta kenyataan yang bagitu indah yang penulis pikirkan dan akui. Jika di dunia ini penulis hidup tidak sendirian. Penulis hidup berkomunitas seharusnya penulis memiliki kasih yang sama. Penulis begitu yakin Allah Tritunggal saling berkomunikasi, saling memerintah dan saling mematuhi perintah satu sama lain. Akan tetapi, ajaibnya mereka tidak pernah terlibat pertengkaran. Mereka dengan senang hati saling mengasihi satu sama lain dengan indah. Bagian ini yang begitu menegur penulis secara pribadi. Memberikan dan menerima perintah sering menjadi persoalan didalam diri penulis. Memerintah tetapi tidak dilakukan sesuai perintah dan keegoisan tidak mau untuk menerima perintah yang membuat penulis sering gusar didalam hati. Seharusnya penulis belajar untuk tidak seperti itu mau untuk melakukan dengan patuh dan penuh kasih. Kemudian didalam Matius 5:44 “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Ini adalah hal yang paling susah untuk penulis terapkan didalam keseharian. Akan tetapi penulis mau untuk melatih diri. Dan memberikan kasih Allah kepada musuh kemudian berdoa bagi mereka. Karena Allah yang akan membantu dan memberikan penulis kekuatan untuk melakukannya. Amin!