NOUS ALLAH DAN KRISTUS (1Kor. 2: 16)

Hasil gambar untuk sunset

Sarkic, tubuh dari atau ayat. Dapat melihat lewat struktur teks lewat Syntactic Form

Syntactic Form

τίς γὰρ ἔγνω νοῦν Κυρίου, ὃς συμβιβάσει αὐτόν; ἡμεῖς δὲ νοῦν Χριστοῦ ἔχομεν. (BYZ04)


Subjek terdiri dari 2 yaitu τίς ὃς συμβιβάσει αὐτόν danἡμεῖς dan 2 predikat ἔγνω νοῦν Κυρίου dan ἔχομεν νοῦν Χριστοῦ yang dihubungkan dengan kata δὲ

Terjemahan Literal,

Merupakan Literal meaning. Karena ketika menerjemahkan berarti kita sedang menafsirkan. Yang dimulai dengan subjek kemudian predikat.

Sebab siapakah yang menasehati Dia telah mengetahui Nous Tuhan? Tetapi kami memiliki Nous Kristus.

Syntactic Points

Dapat dilihat dari Syntactic Form dan terjemahan literal yang telah dibuat sebelumnya. Dan tergantung berapa klausa dan kalimat yang ada di dalam Syntactic Form yang kemudian dapat dibuat 2 poin di dalam syntactic poin.

  1. Sebab siapakah yang menasehati telah mengetahui Nous Tuhan
  2. Tetapi kami memiliki Nous Kristus.

Historis

Pada pasal 1:18- 4: 21 kesalahan pesan dari injil di dalam Gereja Korintus yang sedang menghadapi perpecahan. Salah satu pemicu adalah kesalahpahaman berita tentang injil. Surat ini ditulis untuk meluruskan kesalahpahaman ini. Pada pasal 2:16 berada didalam konteks demikian dan dalam upaya meluruskan kesalahpahaman ini. Pasal 1-5 konsentrasi mengenai alasan- alasan perpecahan gereja di Korintus. Di dalam The Orthodox Study Bible, surat ini ditulis dengan tujuan untuk mempersatukan jemaat pada saat itu.

Ada 3 penyebab perpecahan pada saat itu:

Kesalah pahaman tentang isi berita injil

Kesalahpahaman tentang pendengar injil

Kesalahpahaman tentang pelayanan Paulus

Sintaktik Poin

  1. Siapa yang mengetahui Nous Tuhan sehingga ia bisa menasihati Dia
  2. Kami memiliki nous Kristus

Sematic Content

Jika mau untuk dapat mengerti satu bagian yang khusus didalam Alkitab maka dapat dilakukan langkah kembali untuk mengintrerpretasikan dengan teks lain maka akan saling menjelaskan karena merupakan satu kesatuan yang ditulis oleh satu pengarang yang sama. Alkitab mempunyai satu pengarang tunggal yaitu Roh Kudus. Langkah pertama yang seharusnya dilakukan adalah fokus dengan ayat yang ada.  Selain dikomparasikan dengan teks lain di dalam Alkitab juga harus dapat dikomparasikan dengan gereja karena Alkitab berasal dari pada gereja. Di dalam 2 Petrus. 1:20-21 mengatakan bahwa didalam kitab suci tidak dapat hanya diartikan dengan satu ayat saja. Seharusnya kita memakai gereja karena gereja menurunkan pengajaran dari para rasul yang telah hidup bersama dengan Yesus dan mengetahui dengan jelas kerinduan Yesus kepada setiap orang percaya.

  1. Siapa yang mengetahui nous Tuhan sehingga ia bisa menasihati Dia.

Kutipan ini hendak menjelaskan bahwa tidak ada seorangpun yang bisa mengetahui nous Allah sebab Allah itu jauh melampaui kapasitas nous manusia. Penyaliban yang dianggap sebuah kebodohan itu tidak dapat diselami. Sehingga Allah yang tidak dapat diselami oleh nous manusia ini merupakan Allah yang transenden bagi menusia seperti yang dituliskan oleh Rasul Yohanes bahwa tidak ada seorangpun yang dapat melihat Allah hanya Anak Allah yaitu Yesus Kristus yang dapat melihat Allah (Yoh. 1:18). Allah yang demikian adalah Allah yang misteri bagi manusia dan tidak ada seorangpun yang memiliki nous Allah.

  • Kami memiliki nous Kristus

Rasul Paulus menulis “Tetapi kami memiliki nous Kristus.” Ini menyatakan selain Nous Allah ada Nous Kristus. Dan Nous ini dimiliki oleh para Rasul, murid Kristus dan seharusnya juga dimiliki oleh orang percaya. Apa itu Nous Kristus? Apa sama dengan Nous Allah? Menurut Rasul Yohanes, “Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan- Nya” (Yoh 1:18). Tulisan ini jelas bahwa Allah Bapa dapat dikenal oleh manusia hanya melalui Anak yaitu Yesus karena Dialah yang menyatakan siapa Allah tersebut.

Rasul Yohanes menuliskan, “Sebab Aku berkata-kata bukan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan” (Yoh 12:49; lihat juga Yoh 8:26,28). Apa yang Yesus ajarkan kepada para murid-Nya adalah perkataan dari Allah sehingga ajaran Yesus adalah ajaran Allah. Hal ini dipertegas lagi oleh Rasul Yohanes, “Maka kata Yesus: “Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu, bahwa Akulah Dia, dan bahwa Aku tidak berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri, tetapi Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepada-Ku” (Yoh 8:28). Sehingga Nous Allah yang tidak terselami oleh manusia itu ternyata dinyatakan oleh Kristus kepada para murid-Nya.

Mengenal Allah secara pribadi adalah hal yang sukar. Allah yang jauh melampaui nous manusia ternyata pada saat yang sama dekat karena Kristus. Misteri Allah hadir di dalam Pribadi Kristus dan kasih Kristus kepada manusia sehingga manusia bisa mengenal Allah melalui Kristus. Kemudian para murid-Nya menangkap nous Kristus melalui pertolongan Roh Kudus. Seperti yang dijelaskan oleh Rasul Yohanes, “tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” (Yoh 14:26). Itu sebabnya Rasul Paulus menyatakan bahwa kami memiliki nous Kristus yang diajarkan oleh Roh Kudus (lihat juga 1 Kor 2:13).

Kemudian para Rasul yang memiliki nous Kristus ini disebut sahabat Kristus (Yoh 15:15) dan mengajarkannya kepada segala bangsa menjadi Gereja seperti Rasul Paulus mengajarkannya kepada orang-orang di Filipi untuk memiliki Nous Kristus (Fil 2:5). Nous Allah yang tidak terselami sekarang telah dinyatakan oleh Kristus kepada para Rasul dan dari para Rasul kepada Gereja. Benar yang dikatakan oleh Bapa Gereja St. Ambrosius bahwa orang percaya adalah mereka yang ambil bagian dalam hikmat ilahi (Catena Aurea).

St. John Chrysostom menyatakan bahwa hal-hal yang berasal dari Allah dinyatakan oleh Kristus kepada orang percaya namun tidak semua hal ilahi melainkan hal-hal spiritual saja (Catena Aurea). Rasul Paulus menyatakan, “Tetapi seperti ada tertulis: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia” (1 Kor 2:9). Rasul Yohanes menyatakan bahwa hal-hal spiritual ini adalah hal-hal yang menuntun manusia kepada hidup kekal yaitu bagaimana manusia bisa bersekutu atau menyatu dengan Bapa dan Anak (lihat 1 Yoh 1:1-4). Jadi, ketika Rasul Paulus menulis kami memiliki Nous Kristus ini artinya kami memiliki Nous Allah yaitu hal-hal yang menuntun kepada hidup kekal atau menyatu dengan Dia dan ini adalah sesuatu yang masih misteri karena belum pernah dilihat oleh mata dan didengar oleh telinga kita (lihat juga 1 Kor 13:12).

Memiliki nous Kristus berarti memiliki hikmat Allah (lihat 1 Kor 2:6-7) dan melalui Roh Kudus nous Kristus itu disampaikan kepada manusia (lihat 1 Kor 2:10-11). Namun sisi lain apa yang diketahui oleh kita tetaplah sebuah misteri: “Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal” (1 Kor 13:12). Ware menyatakan ini adalah pengenalan akan Allah yang seimbang antara apa yang misteri dan yang disingkapkan kepada kita. Pengenalan Allah ini juga seperti pengenalan yang penuh misteri. Disingkapkan bahwa Allah adalah kasih namun menjadi misteri bagi kita karena kasih Allah yang demikian tidak bisa diukur dengan pengertian atau pemahaman kita yang terbatas seperti penjelasan Ware di atas.

Pada akhirnya, untuk apa kita mengenal nous Allah dan Kristus ini? Rasul Yohanes menyatakan bahwa apa yang ia beritakan dan tuliskan adalah supaya setiap orang bisa percaya pada Kristus dan memperoleh hidup kekal yaitu pengenalan dan persekutuan dengan Allah dan Kristus (lihat Yoh 20:31; 17:3; 1 Yoh 1:1-4). Sebab itu belajar Teologi (mengenal Allah) adalah untuk mengalami pertobatan setiap hari yaitu pengudusan hidup untuk menjadi semakin serupa dengan Anak-Nya. Seperti kata Rasul Yohanes, “Saudara- saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya. Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci” (1 Yoh 3:2-3).

Mari kita memiliki sikap seperti Rasul Paulus dalam pelayanan, “ketika dihormati dan ketika dihina; ketika diumpat atau ketika dipuji; ketika dianggap sebagai penipu, namun dipercayai, sebagai orang yang tidak dikenal, namun terkenal; sebagai orang yang nyaris mati, dan sungguh kami hidup; sebagai orang yang dihajar, namun tidak mati; sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita; sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak bermilik, sekalipun kami memiliki segala sesuatu.” (2 Korintus 6:8-10).

Personal

Pengenalan akan Allah tidak dapat diukur melalui seberapa banyak aktifitas keagamaan yang dilaksanakan oleh setiap orang percaya. Pengenalan akan Allah ini dapat diukur seberapa banyak orang percaya meluangkan waktunya untuk mau bersekutu secara pribadi dengan Allah. Dikatakan didalam Yohanes 20:29b “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” Ini merupakan sebuah kabar baik yang Yesus ucapkan di dalam meneguhkan iman setiap orang yang menaruh pengharapan kepadaNya. Ini kemudian menjabarkan bahwa setiap orang percaya seharusnya mengalami hidup, berinteraksi, berkomunikasi secara intens dan pribadi dengan yang tertulis. Ini dapat dilakukan dengan merenungi firmanNya, agar dapat melakukan kehendakNya dan menjalani pertobatan setiap harinya.

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started