
Di dalam Alkitab pula terdapat begitu banyak teks yang sifatnya menuju kepada alegori yang bertujuan sebagai lambing (ibadat, kias) perikehidupan manusia yg sebenarnya untuk mendidik (terutama moral) atau menerangkan sesuatu (gagasan, cita-cita, atau nilai kehidupan, seperti kebijakan, kesetiaan, dan kejujuran). Jika di dalam Alkitab alegory adalah hal-hal yang terjadi di dunia tetapi di intrpretasikan ke hal-hal yang metafisik.
Ketika Yesus berinkarnasi dan memulai pengajaran setelah berusia 30 tahun di dunia selama 3 tahun perjalanan pengajarannya di dalam Injil tercatat begitu banyak pengajaran Yesus Kristus yang memakai perumpamaan (perbandingan, ibarat, peribahasa yang berupa perbandingan) dengan tujuan untuk mempermudah pengajaran yang dilakukan agar dimengerti setiap orang yang mendengarkan pengajaranNya.
Seorang raja mengadakan pesta pernikahan untuk putranya ia mengutus hamba- hambanya untuk menyebarkan undangan kepada orang – orang yang telah dipilih untuk datang ke pesta tersebut. Pertama, orang – orang tersebut tidak mau datang karena berbagai alasan. Kedua, raja tidak menyerah dengan memerintahkan para hambanya untuk mengundang orang – orang itu lagi namun hasilnya sama saja mereka tidak mau datang karena semua kesibukan dengan hal- hal duniawi (sibuk dirumah dan pekerjaan). Akhirnya raja membuat undangan baru untuk orang- orang yang ada di persimpangan jalan dan mengutus hamba- hambanya mengundang mereka. Orang yang di persimpangan jalan ternyata menerima undangan tersebut. Sampai pada hari perayaan pesta pernikahan ruangan pesta tersebut akhirnya ramai dengan orang- orang yang mengenakan pakaian pesta yang begitu indah dipandang mata. Akan tetapi ditengah kerumunan orang yang terlihat begitu indah mengenakan pakaian pestanya ada satu orang yang tidak memakai pakaian pesta dan akhirnya orang itu pun diusir dari ruangan pesta tersebut.
Level 1
Syntactic Point: Knowledge: Kerajaan sorga
- Seumpama seorang raja mengadakan perjamuan kawin
- Raja memanggil hamba-hamba-Nya untuk memanggil orang yang diundang
- Orang-orang yang tidak datang
- Raja menyuruh hamba lain untuk memanggil lagi orang yang diundang
- Orang-orang yang tadi tidak mau datang lagi dengan berbagai alasan
- Raja menjadi murka dan menyuruh pembinasa untuk memburu orang itu
- Hamba-hamba pergi ke persimpangan jalan
- Raja masuk dan bertemu dengan tamu-tamu.
- Semua berpakaian pesta dan ada seseorang yang tidak memakai pakaian pesta dan orang itu dibinasakan
Level 2
Sematic Content: Christ-Centered & Ekklessia
Makna dari perumpamaan ini jelas: perjamuan kawin adalah Kerajaan Surga, undangannya adalah pemberitaan Injil, yang menolak adalah mereka yang tidak percaya sama sekali, dan yang tidak berpakaian pesta adalah orang percaya tetapi tidak hidup menurut iman. Dari berbagai jenis orang yang memiliki iman kita harus mencari tahu, kita ada di bagian mana. Apakah kita orang percaya yang sama sekali tidak berpikir tentang iman, dan menggagap iman itu tidak ada. Ada orang yang lain mengetahui undangan tapi merasa sudah puas dan tidak mengindahkannya; yang lain menafsirkan iman dengan cara yang menyimpang. Apakah kita beriman dan mengenakan pakaian pesta karena kebajikan atau mengenakan pakaian compang-camping dosa dan nafsu. Hal ini tergantung dari pada jiwa setiap kita sebagai orang Kristen. Bagaimana kita mempergunakan jiwa kita untuk kebaikan dan beriman kepada Allah dengan sepenuhnya. Mulailah periksa jiwa kita dan berlatihlah untuk mempercayai Tuhan agar kita tidak menggenakan pakaian compang – camping yang dipenuhi dengan nafsu.
Pakaian pesta kita adalah pakaian Kristus. “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Gal 2:20). Pakaian Kristus dimana daging dan darah-Nya yang dicurahkan untuk mengundang kita masuk ke dalam pesta perkawinan. Ketika kita menggenakan pakaian Kristus berarti kita telah menanggalkan pakaian lama kita dan menggenakan pakaian baru yang Yesus telah sediakan melalui kematian dan kebangkitanNya (Gal 3:27).
Setelah kita mengenakan pakaian baru (pakaian pesta) seharusnya kita menjadi pribadi yang lebih lembut, menjadi lebih sabar, tidak sembarangan, dan hidup teratur. Tujuan dari semua hal itu untuk menjaga pakaian pesta yang begitu indah tersebut tetap bersih dan menjadi layak untuk digunakan sampai pada hari Sang Mempelai Pria datang untuk menjemput kita menikmati kebahagiaan dan keindahan bersama dengan Dia.
Aplikasi
Hal yang dilakukan ketika memakai baju pesta:
- Menjaga kebersihan = tidak hidup dalam nafsu dan dosa (latihan badani).
- Tidak sembarangan = berjaga- jaga (nepsis)
- Kerjakan buah- buah roh (Gal. 5:22-23)