
Kamu tidak akan merasakan kehangatan api jika hanya belajar tentang api tetapi kamu harus pergi mendekati api. Harus ada action. Sama seperti kasih, kita belajar tentang kasih tetapi kita tidak akan merasakan hangatnya kasih tanpa kita mengasihi. Kasih itu bukan hanya kasih agape melainkan kasih eros (cinta yang membara antara sepasang kekasih). Cinta ini penuh dengan api. Allah mengasihi kita dengan kasih Eros. Kasih yang menyala- nyala seharusnya kita juga mengasihi Allah seperti itu. Mengasihi Allah yang membakar dan memurnikan kita. Di dalam hati kita satu sisinya diisi dengan manusia daging. Daging adalah hal yang bertentang dengan Roh Kudus. Hati adalah alam bawah sadar kita. Ruang kedalaman batin yang seluas samudera yang diisi oleh berbagai macam hal yang baik dan tidak baik. Hal yang tidak baik seharusnya dibakar oleh cinta yang membara.
Jika didalam kita terdapat kemarahan yang merupakan api yang akan membakar hati kita. Hal yang tidak baik ini harus dibakar dengan api eros (purification). Jika kita dapat mengatasi kemarahan, ini merupakan langkah awal yang membuat kita dapat mengontrol hal yang tidak baik. Kasih menjinakan kemarahan. Jika kita belajar sabar berarti kita sedang membakar kemarahan tersebut. Jika kita mengendalikan diri ini adalah hal yang dapat mengendalikan jiwa kita. Kalau kita mencintai Allah maka Allah akan memberi kita kuasa yang menjinakan hawa nafsu. Ada juga keinginan roh di dalam diri manusia: Iman, pengharapan, kasih, dan pengampunan. Dengan takut akan Tuhan seharusnya membuat kita tahan terhdap cobaan. Dalam hati terdapat kebajikan. Hal- hal daging seperti kertas yang terkena api dan hilang sedangkan kesabaran merupakan emas yang jika dibakar akan menjadi semakin murni. Kasih itu memang bukan hal yang gampang karena. Jika kita mau mengasihi Maka kita diperintahkan untuk mengasihi musuh kita.
Bapa Gereja mengajakan kita menjadi orang yang dapat mengasih sesama. Jika kita mengasihi sesame berarti kita mengasihi Tuhan. Jika ada ada orang yang membenci kita maka kita tidak disarankan untuk membenci dia melainkan mengasihi dia. Kasih melakukan hal yang baik dengan tidak membenci musuh. Jadi kita harus penya long suvering. Mengampuni adalah hal yang tidak enak. Api akan membakar kita, tetapi disisi lain kita akan semakin dimurnikan.
Ketika kita makan yang tidak pernah puas dengan sebuah kenikmatan ini merupakan passion. Jadi ini bukan mengajarkan sebuah kemenangan tetapi mengenai secukupnya. kita makan sesuatu kita harus tetap dapat mengendalikannya. Self control adalah menjaga tubuh agar tidak jatuh ke dalam perzinahan. Kita sendiri punya hawa nafsu didalam diri kita yang seharusnya dipadamkan dengan self control jadi kalau ada orang yang tidak dapat mengendalikan hawa nafsunya berarti dia tidak memiliki self control. Jika kita minum alkohol harus menanyakan hal itu adalah kebutuhan atau keinginan? Jika ini adalah keinginan maka itu adalah api dosa yang membakar kita hingga abis. Kita bisa jatuh kepada kesalahan yang membuat kita seperti seekor binatang. Anggota tubuh kita dipakai untuk hal yang bersifat pleasure maka harus dibakar.
Doa
Yang dapat membuat pikiran jauh dari pikiran- pikiran jahat. Hal – hal yang akan mendatangkan hawa nafsu. Atau sering disebut sebagai logismoi yang merupakan api yang membakar. Oleh sebab itulah kita harus memiliki doa yang membuat pikiran kita tetap terjaga dan konek dengan Allah. Dengan pikiran yang konek kepada Allah maka pikiran kita akan ditarik dari segala pikiran dunia sehingga pikiran kita (nous) akan tersambung dengan Allah dan menjadi seperti Allah. Untuk itulah kita seharusnya dapat berdoa tanpa henti. Jadi keselamatan terbagi menjadi dua kasih Allah dan askesis yang kita jalankan.
Keselamatan adalah anugerah dari Allah sehingga kita mencapai keserupaan dari Allah. Dan askesis life yang tertiggi adalah sebuah kekuatan yang dapat membawa iman kita kepada kasih. Doa adalah energi positif.
Siapakah yang dapat pisahkan kita dari kasih Yesus? Dalam kondisi apapun kita tidak dapat dipisahkan dari kasih Yesus dan Yesus akan selalu mengasihi kita. Jadi kalau kasih Allah senantiasa ada berarti waktu kita meresponinya tidak boleh tertutup hal ini dinyatakan didalam doa supaya kehidupan Yesus menjadi nyata di dalam diri kita (2Kor. 4:8- 10). Didalam melakukan pelayanan seharusnya kehidupan Yesus selalu ada di dalam kita. Seperti pelayanan Paulus jika tidak memiliki kasih maka sepertinya Rasul Paulus tidak akan bisa menanggung segala kasusahan yang dialaminya. Kita tidak akan punya kasih jika tidak ada iman dan pengharapan. Paulus mengatakan jangan sedetikpun kita tidak membawa kematian Kristus di dalam tubuh kita inilah doa tanpa putus yang merupakan energy positif di dalam kita. Dalam setiap hal yang dikerjakan seharusnya kita tetap berharap kepada Allah. Karena ada doa tanpa henti maka kita akan dapat bersukacita di dalam menderita. Buah Roh merupakan satu roh tetapi memiliki berbagai macam rasa, kasih bisa pahit, dan sabar.
Di dalam 2 Kor 12: 9:10 seharusnya kita yang mengalami kesusahan, penganiayaan semuanya karena Kristus oleh anugerahNya. Sehingga kita punya anugerah maka kita dapat mengatakan “jika aku lemah maka aku kuat.” Apa yang kuat? Iman dan kasih yang ditambah dengan anugerah. Apa maksudnya kuasa Kristus tinggal di dalam aku? Anugerah Allah, walaupun kita lemah.
Bapa kenapa aku tidak memiliki penyesalan akan dosa- dosa? Karena kamu tidak punya takut terhadap Allah. Orang yang takut kepada Allah akan takut akan penghakiman Allah. Apa kamu tidak takut kepada Musa yang berbicara mengenai orang- orang berdosa di dalam Allah maka akan ada pembalasan di dalam Allah (Ul. 32:41). Ada murka Allah untuk orang berdosa (Ul. 32:22). Orang berdosa akan mempunyai pertobatan jika kita memunyai takut akan Allah dan mempunyai self control akan semua dosa kita (Yes. 33:14). Merasa malu adalah penghakiman dari Allah (Yes. 50: 11; 65:13). Ada penghakiman dari Allah yang akan terjadi, jika kita mempunyai api yang akan membakar habis semua hal jahat (Yer. 13: 16). Hal yang mengerikan mengenai penghakiman Allah (Yeh. 7:8). Ada penghakiman Allah yang mengerikan (Dan. 7: 9-11). Penghakiman Allah akan dijatuhkan sesuai dengan perbuatan kita (Dan. 7:13-15; Maz. 62:13). Semua orang tanpa terkecuali akan menerima penghakiman dari Allah (2 Kor. 5: 10). Pertanyaannya adalah siapa yang tidak takut, berdukacita akan penghakiman Allah? Apa maksud takut akan Allah? Berarti takut akan penghakimanNya. Pada akhrinya orang- orang berdosa ini akan masuk bersama dengan iblis dan malaikat maut di dalam api yang kekal (Mat. 25:41). Mendengar semua hal ini bagaimana kita dapat santai pada hari itu. Didalam Hukum Taurat Musa tidak cukup untuk menyelamatkan kita sebagai orang berdosa jadi kita dituntut untuk sempurna untuk dapat menghadapi penghakiman (Kel. 20: Mat. 5: 20).
Kita dituntut mempunyai sebuah kesempurnaan, tetapi ternyata kita masih seorang yang berdosa yang masih ditangisi oleh Para Rasul di dalam Roma 3: 12-18 bahwa kita bukanlah orang yang baik akan tetapi dituntut untuk sempurna. Ini merupakan gambaran dari orang- orang pada hari- hari terakhir (2 Tim. 3: 1-4). Bukanlah kita orang yang suka makan, menyukai hawa nafsu, bukankah kita semua cinta materi, bukankah kita pemarah, bukankah kita munafik, bukankah kita tidak tulus? Bukankah kita tidak taat kepada Allah? Oleh inilah bagaimana kita dapat berdiri didepan Tahta Allah? Maximus mengatakan bahwa inilah keadaan dari orang – orang yang memang mengikuti jalan iblis yang tidak ada kebenaran (Yoh. 8: 41-44). Jika kita adalah orang Kristen yang suka melawan perintah Allah maka kita harus punya pertobatan. Pertobatan harus dipimpin oleh Roh Allah menjadi anak Allah jika tidak bertobat maka akan mengikuti iblis maka menjadi anak- anak iblis (transgressors) (Rom. 8: 14; 1Yoh. 3: 7-8).
Kita butuh satu tangisan akan dosa- dosa kita yang akan membawa hidup bersama dengan Roh. Bagaimana kita memiliki tangisan akan dosa- dosa? Kita harus memiliki tangisan Yesus. Kita harus punya satu kesempurnaan bahkan lebih dari pada ahli- ahli Taurat (Mat. 5:20). Hidup kita harus sempurna. Kita melakukan pertobatan di dalam iman. Kita lahir dari Allah sebagai orang Kristen yang adalah anak- anak Allah. Apa yang kita miliki sebagai anak Allah? Jika jawabannya hanya iman maka iblis juga akan mengatakan bahwa mereka juga memiliki iman (Yak. 2:19). Iman mendatangkan takut akan Allah yang mendatangkan tangisan akan dosa- dosa. Dan akan muncul self control, ketekunan, kesabaran, dan kasih. Itu yang dituliskan oleh Maximus. Jika kita memiliki iman tetapi tidak mempunyai ketaatan sama saja dengan iman yang dimiliki oleh iblis. Kalau kita punya iman harus diiringi dengan ketaatan kepada Yesus. Iman yang disertai dengan perbuatan sama saja dengan kasih. Iman yang diikuti dengan ketaatan, prayer dan lain sebagainya maka itu yang disebut dengan iman mendatangkan kasih. Iman yang mendatangkan kasih harus dilengkapi dengan anugerah Allah jika Kristus tinggal didalam kita. Iman kita seperti pokok anggur. Di dalam Yesus kita tidak dapat berbuat apa- apa. Pada akhirnya bukan lagi kita yang hidup di dalam kita melainkan Yesus yang hidup di dalam kita, iman yang hidup jika berada di dalam anak Allah yang mengasihi kita dan mati karena kita (Gal. 2:20). Itulah sebabnya ketika kita hidup kita menjadi peniru Kristus (1Kor. 4:12). Jadi kalau iman yang hidupndi dalam kristus adalah iman yang mendatangkan perbuatan/ ketaatan dengan konsekwensi kita mengalami penderitaan. Berbuatlah baik pada mereka yang membenci kita, adalah perintah dari Yesus (Luk. 6:27). Kata- kata tidak bisa membuktikan iman yang hidup, perbuatan dari mengasihi yang mendatanhkan kehidupan. Jika kita melakukan berbalik dengan perintah Yesus maka kita akan melakukan hal yang najis, padahal kita adalah Bait Allah (1Kor. 3:16). Para Rasul menangisi dosa manusia (Rom. 1: 28-32). Allah menyerahkan mereka kepada dosa mereka yang mendatangkan murka Allah (Rom. 1: 20).
The Four Centures On Charity
Charity adalah menjalani proses pemurnian jiwa karena kita sudah diproses dalam pertobatan, self control semua itu telah dibersihkan dan pada akhirnya menjadi emas (kasih). Kasih adalah sebuah kemurnian jiwa yang memilih pengetahuan Allah bukan pada ciptaanNya. Jadi tidak mungkin kita mengasihi jika tidak mengalami pembersihan akan hal- hal duniawi. Kasih ini dihasilkan dari dispassion (mengatakan tidak pada nafsu). Dispassion berasal dari berharap kepada Allah (Yak. 1:2-3). Iman mendatangkan ketekunan. Jadi kalau kita punya iman terhadap pengadilah Allah maka dia dapat menguasai nafsu. Kesulitan- kesulitan akan menghasilkan ketahanan. Kita yang dapat mengadapi ketahanan dan ketekuan akan menghasilkan pengharapan dimana pikiran akan tertuju kepada mengasihi Allah. Ini akan mendatangkan kasih kepada Allah bukan kepada apa yang diciptakan. Semau hal yang diciptakan untuk Allah dan lebih mulia dari pada yang Dia ciptakan. Tidak mungkin mencintai Yesus dan uang, harus pilih satu.
Kalau pikiran kita masih terikat kepada hal- hal duniawi maka kita tidak dapat mengasihi Allah. Jika pikiran kita dapat mengasihi Allah kemudian diajak untuk melakukan ketidakbaikkan maka rasa asing akan menyelimuti hati. Jika Allah lebih diutamanakan dari apa yang diciptakan maka kta telah memilih Allah dari pada dunia, tetapi kita lebih memilih ciptaan maka kita melakukan penyembahan berhala. Jadi penyembahan berhala bukan hanya untuk pembawa patung saja.
Dia yang menjauhkan NOUS dari charity terhadap hal- hal yang kelihatan maka dia lebih pilih ciptaan dari pada Allah. Kasih itu seperti membakar yang menghasikan terang. Kalau kita punya kasih maka itu yang membakar dan menerangi kita. Membakar – purification sedangkan menerangi – menerangi tubuh kita. Mind harus terhubung dengan Allah adalah kasih yang dapat menghanguskan dan memurnikan. Jadi tergantung jiwa kita kertas atau emas. Mulai dari mint akan mengiluminasi pikiran kita berarti akan menerangi hati kita sehingga pada akhirnya menerangi tubuh kita yang akan menjadi terang sama seperti orang yan berjemur dibawah matahari yang membuat wajah bersinar. Ketika kita mengasihi Allah kita tidak dapat melupakan hal itu. Dan jika kita mengasihi sesame mereka juga tidak dapat melupakan hal tersebut. Pikiran kita akan dibakar oleh api kasih. Apa yang kita lakukan dan perbuat maka terang Yesus akan terpancar jadi lewat cinta yang membakar itu yang akan memurnikan pikiran kita yang jahat lalu kita akan semakin menyadari keberdosaan kita (Kol. 3: 5). Jika kita menyadari diri yang penuh dosa, maka api kasih itu akan bekerja.
“Dia yang mengasihi Aku, jika dia mengasihi sesamanya berarti Dia mengasihi Aku”. Jadi kasihi sesama bukti bahwa kita mengasihi Allah. Segala hal duniawi ini mencintai tanpa henti terdapat kecantikan ilahi. Jadi kalau kita hanya ingat akan api tidak akan menghangatkan jiwa makai man tanpa kasih tidak akan menghasilkan jiwa kita. Jika sinar matahari baik bagi kita maka pengetahuan Allah itu akan baik bagi Mint kita. Jadi memang kita seharusnya suka dengan cahaya ilahi yang akan turun ke hati dan hati akan turun ke tubuh kita.
Perbuatan kasih itu memang harus dilakukan secara sengaja kepada sesame kita tetapi dapat menghasilkan pengorbanan, tahan penderitaan. Kita yang mengasihi Allah seperti malaikat di bumi. Malaikat itu selalu berjaga- jaga, berdoa, bermazmur dan memberhatikan sesama. Kasih itu seperti api (zeal), kalau Kristus adalah mempelai laki- laki dan kita mempelai perempuan maka mempelai perempuan adalah milik Allah.
Kalahkan daging kita dengan tidak makan berlebihan karena itu adalah penyebab dari gluttony. Yang harus dilakukan dengan berdoa dan berjaga- jaga. Kalau kita punya divine knowledge maka kita tidak akan masuk ke dalam kesombongan yang sia- sia, dan tidak punya apa- apa (vainglory). Kita yang takut kepada Allah maka bersahabat dengan kerendahan hati yang membuat kita memiliki kasih dan ucapan syukur. Jangan tanamkan sesuatu didalam pikiran dengan penuh kemarahan. Listlessness adalah kemarahan yang tidak dapat padam. Yang harus dilakukan adalah berdoa kepada Allah. Kalau kita dalam keadaan digoda maka jangan meninggalkan doa kepada Allah.
“Persembahan” disini menunjuk kepada korban didalam PL yang dibakar dengan api. Sedangkan sekarang karena kegenapan hukum taurat digenapi dengan hukum kasih maka korban tubuh kita dibakar dengan api kasih. Maka Rasul Paulus mengatakan bahwa tubuh semakin habis tetapi jiwa semakin dimurnikan. Disini dapat dilihat bahwa burning love bisa memurnikan roh, jiwa dan dapat membakar korban tubuh kita. Sehingga kita menjadi korban yang kudus, hidup dan berkenan kepada Allah.
Aplikasi
Jika dahulu kita adalah korban dari pada api kasih Allah atas segala dosa kita maka sekarang rubahlah itu menjadi api kasih Allah akan semua perbuatan kasih yang kita berikan kepada sesama dan kepada Allah. Api kasih bukan hanya untuk mengasihi orang yang mengasihi kita melainkan mengasihi orang yang membenci kita.