Personal Spirituality

Nama: Geralda Aprillia Salindeho

Mata Kuliah: Dogmatika 4

Tugas: 9

Penebusan terjadi secara spiritual yang dimulai secara personal yaitu iman, pengharapan dan kasih. Iman ini dapat bertumbuh dengan perbuatan. Setelah kita memiliki iman akan ada tahap selanjutnya yaitu Purification (Askesis) dan Kontemplasi (Iluminasi). Di dalam diri Yesus ada tahap selama Dia hidup yang kemudian menjadi contoh bagaimana seharusnya orang percaya dapat hidup:  Yesus: Dispassion -> Penyaliban daging, dikuburkan (manusia lama). Sedangkan orang percaya: Virtue -> kebangkitan-> hidup bagi Allah -> Manusia baru ini sering disebut spiritual theoria.

Kehidupan manusia yang dijalani dengan tahap-tahap kerohanian akan berakhir pada theosis yang membawa kita masuk dalam kemuliaan Allah. Penebusan yang historis sudah selesai untuk semua orang sedangkan penebusan secara spiritual sedang berlangsung di dalam personal manusia. Manusia mengerjakan manusia baru yang pada akhirnya menunggu Yesus datang kedua kalinya. Kehendak bebas manusia dengan anugerah bersinergy menghasilkan pertobatan, persekutuan pribadi (Praktikos) dan setiap penulis buku rohani akan membantu kita untuk pada akhirnya membawa kita semakin serupa dengan Yesus. Penebusan secara spiritual timbul dari dalam batin atau hati manusia. Pengantara dan jembatan dari manusia dan Allah adalah Yesus Kristus. Jadi kalau ada NOUS maka di dalam SOUL adalah reason intellect dan will yang didalamnya mempekerjakan semua hal yang ada di dalam diri manusia dan juga menjaga hati dari segala kekotoran. Dan musuh dari pada hati adalah passion.

Apa arti spiritualitas?

Kata Spiritual menujukan kata “spirit” atau Roh dari pada manusia dan kata spirit tidak dapat didefinisikan. Manusia disebut sebagai makhluk spiritual yang dipenuhi Roh Kudus. Jadi spiritual adalah roh, batin dan jiwa manusia. Jadi siapapun yang punya Roh disebut makhluk Roh. Spiritual kita adalah suatu perjalanan yang menuju kepada penyatuan Ilahi dengan Allah dan itu yang disebut dengan Theosis. Kehidupan Kristen: adalah kehidupan yang berproses dimulai dari membersihkan passion dan mencapai kebajikan. Atau dengan kata lain spiritualitas menujukan cara manusia dapat membersihkan nafsu dan pada saat bersama mencapai kebajikan, hal ini berjalan secara bersamaan. Ex: ketika kita memberi pada saat yang sama kita sedang melawan keserakahan.

Spiritualitas adalah suatu proses sampai kita menyatu di dalam Allah. Jadi kita tahu sekarang bahwa spiritualitas itu bukan sesuatu yang abstrak melainkan apa yang kamu sentuh dan kerjakan kita adalah manusia spiritual.

Ciri dari orang yang melakukan spiritualitas:

  1. Kehidpan spiritual akan memuncak pada penyatuan akan Allah.
  2. Merupakan karya Roh Kudus yang bersinergy.
  3. Kita akan menjadi serupa dengan Allah sehingga memperoleh pengetahuan dan kasih.
  4. Efek dari penyatuan ini adalah kita memiliki spirit dan energy hingga pada akhirnya akan menjadi manusia terang.

Tujuannya adalah manusia akan mencapai deifikasi/ partisipasi di dalam kodrat ilahi.

Deifikasi

Deifikasi adalah menjadi serupa dengan Allah, partisipasi di dalam kodrat ilahi. Didalam deifikasi kita mempunyai energy untuk menjadi serupa dengan Allah. Dengan cara menjadi anak-anak Allah yang terus menerus menyerap energy dari Allah. Jadi cahaya ini yang membuat kita hidup di dalam kuasa ilahi yang membuat kita hidup abadi. Kita tidak menjadi Allah melainkan kita menjadi seperti Allah di dalam anugerah. Di dalam kekekalan Allah Tritunggal memiliki 3 esensi dan energy. Untuk mencapai tujuan spiritual Rasul Paulus memberikan gambaran yang jelas di dalam 1 Korintus 9: 24-27 yang digambarkan sebagai sebuah perlombaan lari dan pertandingan tinju, dimana kita harus berlatih. Dan didalam perjalanan iman ini kita dapat juga gagal. Di dalam 2 Timotius 2:5; 2:15 kita harus dapat mengusahakan agar apa yang berkenan di dalam Allah. Spiritual work ini disebut juga asketism.

 Seorang Church Father Stanliloae mengatakan “tujuan asketism bukan hanya membebaskan diri kita dari nafsu atau membersihkan dari dosa tapi juga harus membersihkan pikiran dari nafsu.” Kita dapat membersihkan nafsu kita secara bertahap bersama dengan Kristus. Tahapannya adalah serangkaian langkah-langkah. Asketism untuk pertumbuhan rohani kita tapi seperti latihan atletik yang menyiapkan kita untuk menikmati latihan yang membuat spiritual bertumbuh.

Dasar Menyatuh Dengan Allah Adalah Kasih Bukan Pengetahuan.

Kita mencapai union with god bukan lagi dengan iman dan pengharapan tapi kita benar-benar mengalami kasih Allah. Natur kita memang ciptaan akan tapi kita dapat menjadi seperti Allah karena anugerah Allah bukan karena natur yang kita miliki. Dan kita seperti yang kita ketahui Anugerah Adalah Kasih Allah Yang Dapat Kita Nikmati.

Berkompetisi Di Dalam Asketism Kita Memerlukan Komunitas Untuk Melatih Jiwa.

Selain synergy dengan Roh Kudus kita butuh gereja. Kalau Roh Kudus adalah ibu rohani maka teman di gereja adalah saudara-saudara kita. Kita harus bekerja dan berusaha supaya mendatangkan kebajikan. Dan kita mengerjakan itu semua didalam kita dan didalam komunitas kita.

Tangga naik berdasarkan kasih yang ada di dalam gereja

Allah yang berkomunikasi di dalam kita bersama Putra-Nya di dalam Roh Kudus melalui anugerah-Nya untuk kita. Allah kita adalah kasih bahkan didalam Allah Tritunggal Allah dapat saling mengasihi. Ini bukan kasih yang semu. Dan sekarang kasih itu bekerja di dalam Allah Tritunggal dan di dalam gereja yang merupakan anggota tubuh Allah. Spiritualitas ini seharusnya semakin naik menuju kepada Allah dan itu hanya ada di dalam gereja dan orang percaya.

3 Langkah Untuk Mencapai Kepada Allah

  1. Praktikos (Pemula)

Mengalahkan nafsu dan melakukan kebajikan sampai mencapai kasih itu.

  • Kontemplasi (Iluminasi)

Kita fokus pada hal-hal surgawi atau pada Allah dengan tidak memikirkan kesenangan duniawi lagi sama seperti Yesus Kristus. Tahap ini hatinya sudah diterangi oleh Roh Kudus. Jiwa dan hati sudah bersih yang akan menikmati terang Allah.

  • Mystical Knowledge

Sudah mencapai kesempurnaan. Kita tidak lagi memikirkan hal dunia melainkan Yesus saja. Tidak inginkan apa-apa lagi. Tahap ini merupakan puncak kasih terhadap Allah.

Apakah passion itu natural?

Passion itu sebetulnya natural karena itu adalah keinginan daging yang merupakan natur dari pada manusia yang tercipta oleh daging. Jadi tidak semua passion itu dosa tapi ada passion yang tidak natural. Passion yang natural itu jangan hanya bersifat keinginan daging tapi seharusnya bersifat jiwa.

Maximus says:

Ketika digunakan dengan bijaksana untuk memenuhi kebutuhan tubuh misalnya kalau lapar makan, kalau takut cari penghiburan tapi yang tidak natural adalah kehidupan kita yang dikendalikan oleh passion. Kita tidak lagi membutuhkan hal lainnya.

Dari mana muncul passion yang tidak natural?

  1. Intelek kita makin lama makin lemah yang dikendalikan oleh keinginan daging sehingga tidak berfungsi lagi.
  2. Indra kita dikuasai maka semakin memperbudak kita akhirnya kita menjadi orang yang hanya dikendalikan oleh nafsu sama seperti binatang.

Sama seperti yang Rasul Paulus katakana di dalam Roma 7:23-24 yang seharusnya kita juga dapat melawan segala keinginan yang ada di dalam tubuh kita.

Kita perlu membebaskan jiwa dari penguasaan tubuh yang tidak natural yang telah menguasai tubuh dan menguasai jiwa sebalikanya tubuh ini harus dibebaskan dari keinginan tubuh.

  1. Nous
  2. Desire
  3. Emotion

Jadi maximus membagi jiwa menjadi 3 bagian

  1. Intellect (nous)
  2. Desire
  3. Emotion.

Intellect dan soul itu sama untuk mengerti hal-hal spiritual tentang doa dan kitab suci. Kita juga harus dapat membedakan nous. Otak kalau kita mati tidak berfungsi tapi pikiran kita tetaplah berfungsi sama seperti contoh yang ada di dalam Alkitab yaitu Lazarus yang mengingat keluarganya walaupun sudah mati. Seringkali kerja pikiran atau otak ini yang menguasai jiwa akibatnya jiwa kehilangan power atau kuasa sehingga jatuh di dalam dosa. Sebalikanya bagaimana membuat jiwa menguasai tubuh jadi otak kita bekerja dengan sensis.

Contoh: Makan, yang digerakkan oleh jiwa. Jadi sebenarnya penggerak dari tubuh kita adalah jiwa. Pikiran jahat memunculkan logismoi atau pikiran jahat yang menyerang nous.

Cara kerja dosa:

Peirasmos (godaan)à Nousà hati lemari batinà idà logismoià keinginan daging/nafsuà menyeret dan memikat à dosaà maut.

Untuk melawan itu semua kita perlu melakukan pemulihan NOUS:

Allah à energy ilahi/anugerah Allaj yang dibawah oleh Roh Kudusà NOUSà lemari batinà menjadi superego (hukum Allah)à logos (reason emotion desire) yang dikuasai Kristus à mampu ammrove kehendak Allah à apatheia (ketiadaan nafsu) dan melahirkan keinginan Rihà anggota-anggota tubuh (penyeliban danging dan nafsu) à ketaatan dalam bentuk kasih.

Pikiran dan perbuatan Kristus à Roh Kudus à NOUS à lemari batinà logos (reason emotion desire à kehendak Allah à keinginan Rohà buah Roh.

Passions

Apa dan bagaimana mengatasinya?

Passion itu muncul dari dalam hati lewat logismoi yang di dalamnya tercapat semacam kebun binatang yang diwariskan. Binatang datang ke dunia sebelum manusia diciptaka dan kita mewarisi kualitas sifat mereka antara lain: Mencari makan, menjaga territorial, berkembangbiak, pintar menjaga diri. Satu sisi manusia seperti binatang dari tubuh satu sisi seperti Allah karena kita mempunyai jiwa. Untuk mengatasi passion kita harus dapat mengalahkan pikiran-pikiran karena logismoi ini yang menimbulkan passion yang akhirnya mendorong kita dan logismoi berasal dari jurang hati kita yang paling dalam.

Untuk mengatasi passion muncul kita harus nepsis dan berdoa. Glutoni, pencemaran, cinta akan uang, depresi, kemarahan, kecemasan yang berlebihan dan kesombongan. Jadi ketika peirasmos itu masuk dia akan mengambil salah satu dosa. Tinggal dipancing maka akan keluar dan akan merugikan diri. Kita harus dapat  melakukan Nepsis, catharsis à doa dan Hesychasm.

Transfigurasi of Passion

Jhon Climacus mengatakan:

Ketika Yesus berbicara kepada manusia yang berdosa Dia tidak berkata takut tapi Dia berkata mengubah passion menjadi kasih dari eros menjadi agape. Jadi passion bisa dirubah menjadi kasih tentu dengan anugerah Allah. Dari mana asal mula passion: kita tidak bisa megalahkan kenaturaran manusia karena kita adalah gambar dan rupa Allah, misalnya kita mempunyai intellect desire emosion itu adalah hal yang natural tapi dapat digunakan untuk hal baik dan jahat. Misalnya emosi adalah hal yang netrl dapat dilakukan untuk hal positif marah kepada hal-hal jahat lalu cemburu bisa dinyatakan oleh keinginan menyatakan diri di dalam Allah. Passions yang terberkati dan ilahi. Intellect desire dan emotion tidak dapat hilang. 

Yohanes Damakus: Kebajikan dan Dosa

Jadi bukan hanya tubuh yang memiliki jiwa tapi indra juga memiliki. Sesses dari jiwa adalah mata dari jiwa, pikiran, gagasan, khayalan, persepsi. Sedangkan tubuh adalah penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, dan sentuhan. Virtues dari jiwa ada 4 yaitu keberanian, penilaian moral, pengendlian diri, keadilan. Virtues dari tubuh yang dapatketika vietues jiwa terpancar yaitu kehidupan askesis yang meliputi: pengendalian diri, puasa, lapar, haus, tetap terjaga, berlutu, mengenakan pakaian sederhana, makan makanan sederhana, makan perlahan, minum air, tidur di tempat sederhana dll.

Jiwa dan tubuh masing-masing punya passion sendiri-sendiri:

Passioan dari jiwa adalah kelupaan, kemalasan, dan ketidaktahuan. Ketika penyakit dari jiwa itu maka jiwa menjadi gelap seutuhnya sehingga menjadi penyembahan berhala, dendam, tidak manusiawi (lih. 1 Tim. 6:10) dan akhirnya, kebencian. Passion dari tubuh adalah kerakusan makanan, keserakan materi, mabuk, ketidak sucian, ketidaksopanan, perampokan, melukis wajah, membuang buang waktu dan akar dari semua itu adalah cinta akan seks, pujian dan uang/ harta. Setiap kejahatan berasal dari 3 penyebab ini.

Dosa dan 2 Aspek Jiwa

Yohanes Damaskus mengatakan jiwa manusia terdiri dari 3 aspek

  1. Intelek, adalah ketidakpercayaan, ajaran sesat, kebodohan dan penghujatan.
  2. Iiwa adalah keegiosan, kebencian, kemaran dll.
  3. Keinginan adalah kerakusan, keserakahan, kemabukan, ketidaksucian, perzinaan, emas, kekayaan dll.

Jadi kalau ketiga hal ini sudah berdosa maka seluruh kehidupan manusia akan dapat dikendalikan oleh tubuh. Maka cara untuk menjaga hati dari dosa dari aspek intelek, emosi dan keinginan adalah Inteleck harus berdoa dan purifikasi. Emosi adalah belajar bersimpati, kasih saying percsaudaraan. Kerakusan adalah memallui puasa, pengendalian diri, belajar memberi dsb. Amin!

Referensi: Buku Orthodox Spirituality, Foundation Of Orthodox Spirituality, Dimitru Staniloae, Philokalia, Formasi Rohani Purifikasi Deifikasi 2019.

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started