Predestinasi Dan Free Will

Nama: Geralda Aprillia Salindeho

Mata Kuliah: Dogmatika 4

Tugas: 8

Hidup seperti Kristus dengan menemukan logos dengan lahir di dalam hati kita berarti kita telah mengerkjakan apa yang Allah kehendaki. Dengan percaya dengan perkataan injil berarti kita telah meresponi Inkarnasi Yesus secara universal dengan mengambil langkah dibabtis. Menyalibkan manusa dagingdan membangkitkan manusia ilahi merupakan proses purifikasi yang sejalan dengan apa yang Yesus telah kerjakan selama di dunia. Semua itu dilakukan untuk mematikan dosa untuk mencapai kehidupan yang kudus di hadapan Allah. Jika semua itu telah dilakukan yang akan kita peroleh dari Allah adalah energy Ilahi atau anugerah.

Manusia berusah bebas dari penderitaan, dan kematian. Namun, manusia tidak bisa melepaskan dirinya dari penderitaan tersebut. Hanyalah Yesus yang menjadi satu-satunya pengharapan yang bisa menyelamatkan manusia dari dosa, iblis dan maut.

Apa kondisi keselamatan pribadi?

Tujuan hidup adalah untuk mencari persatuan dengan Allah dan keselamatan kita.

1) Kita mulai dengan Iman kepada Tuhan dan Kebenaran dari Kitab Suci.

2) Kami menerima benih pada saat Pembaptisan dan Natal.

3) Melalui pertobatan (metanoia – perubahan pikiran) kita merendahkan diri untuk menerima Tuhan dan berusaha mengubah perilaku kita.

4) Dengan doa dan puasa, kita membuka hati kita kepada Tuhan untuk-Nya

rahmat untuk membantu kami.

5) Melalui Sakramen Gereja kita menumbuhkan benih dan menerima rahmat-Nya.

6) Dengan rahmat dan pilihan yang tepat kita semakin dekat dan dekat

Allah.

7) Setelah mati kita akan mengenal Tuhan dan Tuhan akan mengenal kita.

 

Kita akan membahas jalan menuju Keselamatan di bagian Orthodox

Jalan hidup.

 

Predestinasi Pandangan Calvin

Kamu dahulu sudah mati artinya kita mati rohani (Efesus 2:1), menurut Calvin karena manusia mati hanya bisa berbuat jahat. Penekanan di dalam Dia terdapat didalam Efesus 1:4-5 yaitu yang dipilih Allah sebelum dunia dijadikan adalah Yesus, sejauh kita ada di dalam Dia maka kita di dalam Dia karena Dialah yang dipilih Allah sebelum dunia di jadikan, kalau kita di dalam Dia kita juga ikut terpilih (1 Petrus 1:18-20). Sejauh kita di dalam Kristus sejauh itulah kita akan dipilih. Orang yang tidak dipilih (di dalam neraka), Allah tidak pernah menciptakan neraka, hal inilah yang menjadi sebuah tanggapan yang harus diperdebatkan (Matius 25:41). Allah adalah kasih (Yohanes 4:8). Neraka itu dibuat untuk iblis dan malaikat-malaikat yang telah jatuh kedalam dosa.  Konsep Gereja Barat keselamatan untuk memuaskan murka Allah. Gereja Timur mulainya dari Allah dan hal itu adalah benar adanya (lih. Ulangan 6:4).

Kapan kita dimerdekakan dari dosa? Di dalam Roma 6:18-23 dikatakan bahwa ketika Yesus mati, bagaimana kematian Yesus bisa membebaskan kita dari kematian? Mengapa Allah harus menyiksa anak-Nya agar manusia masuk sorga? Jawabannya adalah Yesus mati sebagai konseskuensi melawan orang-orang yang jahat; ini bukanlah berarti Allah menyiksa Tuhan Yesus. Yesus menderita sebagai korban. Korban apa? sebagai korban penggenapan Perjanjian Lama. Korban artinya mendekat. Karena dosa manusia terpisah dari Allah. Allah mempunyai dua sifat yakni sifat kasih dan sifat adil. Sifat kasih-Nya Allah terlihat ketika Yesus menjadi mannusia untuk menghapus dosa manusia, sedangkan sifat adil Allah ketika manusia harus di hukum karena berdosa. Di dalam Perjnjian Lama untuk menghaus dosa harus melalui korban sembelihan melalui para imam, namun ini bukanlah korban yang sempurna, akhinya Yesus menyempurnakanNya dengan menjadikan Dia sebagai manusia yang totalitas dan menjadi daging (Yesaya 53:5-7). Anak domba Allah yang menghapus dosa manusia (Yohanes 1:29). Untuk memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang, Dia harus mengalami penderitaan (Markus 10:25). Penderitaan-Nya itu adalah api yang membakar. Yesus taat kepada Allah (Filipi 2:7). Dalam Gereja Barat sebagai pemuas dari murka Allah. Kita terjual dari dosa. Di dalam Roma 7:14 karena kita telah terjual makanya harus ada harga yang harus di bayar oleh Allah melalui pengorbanan Anak-Nya yang Tunggal. Amin!

Referensi: Hendi“Inspirasi Kalbu 3” Meneladani Kristus & Saint George Greek “Orthodox Cathecism” Salvation

Keselamatan Reform dan Orthodox (Part 2)

Nama: Geralda Aprillia Salindeho

Mata Kuliah: Dogmatika 4

Tugas: 7

Di dalam Efesus 4:16 menceritakan mengenai NOUS manusia mati yang tidak terhubung dengan manusia. Dalam bahasa asli Efesus 4:18 bahwa manusia terasing dan terputus dari hidup Allah bukan jauh dari persekutuan Allah. Hal yang terjadi dengan orang yang sudah mati yaitu NOUS yang sia-sia, pikiran yang gelap dan terasing dari Allah. Dan pada ayat 19 merupakan kondisi yang terjadi prasaan mereka tumpul, menyerahkan diri pada hawa nafsu dan berjalan seperti bangsa yang tidak mengenal Allah, pikiran mereka gelap dan terputus dari hidup Allah. NOUS, dinodai dan kardia kita sudah mati total.

Sebaliknya orang yang sudah mendengar tentang Kristus dan diajarkan. Akan belajar dari Dia sepeti guru dan murid. Di dalam pengertian diajar dan didoktrinisasi di dalam Kristus yang di dalam- Nya terdapat kebenaran. Kita juga mau diperbaharui di dalam Roh melalui NOUS kita di dalam Allah dalam kebutuhan yang sebetulnya. Setelah semua proses yang sudah lalui kita akan mengalami kebangkitan sama seperti Yesus yang dibangitkan kemudian Roh kita diperbaharui karena itu adalah satu kesatuan.

Nous kita terputus dari pada hidup Allah berarti kuasa dari pada Roh Allah tidak berkuasa lagi di dalam kehidupan kita akibatnya roh kita kehilangan daya dan dikendalikan dengan tubuh yang lama kelamaan manusia mengalami kematian. Walaupun Roh tidak mempunyai kemampuan Ilahi, roh akan tetap ada. Akan tetapi, kehilangan kehidupan kekal. Ini artinya kematian. Ini tidak ada kaitan dengan berbuat baik. Di dalam Yohanes 5: 38 dari sinilah diketahui manusia mempunyai kehendak bebas (bdk Wah. 2: 17) digaris bawahi “barangsiapa yang mau” ini kembali kepada pribadi dari pada manusia. Kalau di dalam Calvinisme keselamatan adalah transaksi hukum maka dengan iman saja kita dapat selamat seperti yang terdpaat dalam Yakobus 2: 24 dari ayat ini dilihat bahwa keselamatan tidak hanya didasari pada iman. Kita harus sadar bahwa iman merupakan tangan yang menerima kasih karunia Allah yaitu keselamatan.

Karena kejatuhan manusia kehilangan kehidupan kekal dan kematian akibat dosa yang diakibatkan oleh Iblis. 3 kekuatan jahat inilah yang membuat manusia terhalang dengan Allah dan harus dihilangkan dari dunia. Yang pertama iblis yang hanya bisa mengalahkan iblis yaitu kristus. Iblis yang hanya bisa dikalahkan oleh Yesus (Ef. 1:20-21). Yang dapat mengalahkan dosa adalah Dia yang tidak berdosa yaitu Kristus (1Yoh. 3:5; 1Petr 2:21-22; 2Kor. 5:21; Ibr. 4:15) berarti kita melihat karena Yesus tidak berdosa. Dia adalah Allah yang kudus sebagai satu-satunya yang dapat mengalahkan dosa. Kematian yang juga dikuasai oleh Yesus yang memang menguasai kematian dan kehidupan (Yoh. 10:17-18). Karena iblis bekerja di dalam manusia yang dimana di dalam manusia ada kekuatan dosa sehingga Dia yang di dalamNya tidak ada dosa akhirnya Ia turun ke dunia berarti ini bukan sekedar memuaskan hati Allah tetapi sejak inkarnasi yang merupakan penjembatanan sehingga di dalam Yesus ada inisiatif keselamatan manusia.

Jadi dengan Kristus menjadi manusia berarti manusia sudah dijembatani antara Allah dan manusia berarti inisitaif keselamatan sudah dikerjakan. Tetapi bagaimana dengan Yesus mengalahkan iblis dosa dan maut? Jadi intinya dosa adalah ketidaktaatan. Yesus mati disalib karena kasih Allah bukan karena kemarahan melainkan Allah berinisiatif mengirimkan Anak-Nya karena kasihNya (Fil. 2:6-8). Allah tidak dipengaruhi oleh apapun dan tidak akan berubah. Ketaatan ini dilakukan oleh Firman Allah yang menciptakan segala sesuatu secara universal oleh sebab itu manusia juga diselamatakn secara universal yang mengalahkan ketidaktaatan Adam yang juga berdampak universal. Akan tetapi semua manusia tidak menanggung dosa Adam melainkan mewarisi dosa Adam (Yeh. 18: 20). Jadi kematian Yesus untuk mengalahkan dosa Adam dan segala dampaknya yang ditanggung oleh manusia (Rom. 5:19).

Oleh sebab itu Yesus yang disalibkan dengan daging mengalahkan dosa yang berakar di dalam daging (Rom. 8:3). Jadi keselamatan karena kedaulatan Allah melalui kematian Yesus tidak berguna. Bagi iman Orthodox keselamatan adalah Yesus. Oleh sebab itulah manusia harus menyatu dengan Kristus. Yesus mati dikibur seperti yang terdapat di dalam Ibrani 2:14 jika iblis itu penguasa maut berarti setiap orang yang mati juga dikuasai oleh iblis sedangkan Yesus yang bangkit membuktikan bahwa manusia diselamatkan dan mengalahkan penguasa maut yaitu iblis.

Jadi jelas keselamatan adalah kasih karunia Allah yang menyebabkan Kristus berinkarnasi, dibangkitkan dan pemulihan yang Yesus telah kerjakan (Rom. 6:9). Kalau kita menyatu dengan Kristus maka kita akan menerima kasih karunia dari Allah. Kasih karunia ini bukan hanya sikap. Keselamatan berarti manunggal dengan Allah dan menyatu dengan Kristus. Keselamatan bukan masalah simpati melainkan merupakan inisitaf Allah. Makanya keselamatan itu ada di dalam Kristus. Predestinasi itu manusia yang tetap memilih untuk percaya bahwa Allah tahu bahwa manusia percaya akan diselamatkan sedangkan orang yang tidak percaya Allah tahu dia tidak akan diselamatkan. Amin!

Referensi: Video Romo Daniel

The Book of Mystical Chapters_Meditations on The Soul Ascent,from the desert fathers and another early Christian Contemplatives- Shambhala (2003) McGuckin, John Anthony

Nama: Geralda Aprillia Salindeho

Mata Kuliah: Etika Kristen

Tugas: 7

47

If you pray truly,

you will discover great confidence,

and angels will come to you

as they once came to Daniel, [DAN. 2:19]

and they will enlighten you

about the inner meaning of created existences.

—Evagrios of Pontus

47

Jika Anda berdoa dengan benar,

Anda akan menemukan keyakinan besar,

dan malaikat akan datang kepadamu

sebagaimana mereka pernah datang kepada Daniel, [DAN. 2:19]

dan mereka akan menerangi kamu

tentang keberadaan yang diciptakan.

— Evagrios dari Pontus

48

Just as sight is the most important of all the senses,

so is prayer the most divine of all the virtues.

—Evagrios of Pontus

48

Sama seperti penglihatan adalah yang paling penting dari semua indra,

Demikianlah doa yang paling penting dari semua kebajikan.

— Evagrios dari Pontus

49

When you stand in prayer

and feel that no other joy can be compared to it,

then you have indeed discovered true prayer.

—Evagrios of Pontus

49

Ketika Anda berdiri dalam doa

dan merasa bahwa tidak ada sukacita lain yang dapat dibandingkan dengan hal itu,

maka Anda sesungguhnya telah menemukan doa yang benar.

— Evagrios dari Pontus

50

How beautiful is a head that is adorned

with a priceless diadem

set with clusters of Indian gemstones and pearls.

But incomparably more beautiful is a soul

that is rich in the knowledge of God

and illuminated by the most radiant contemplation,

for it has the Holy Spirit dwelling within.

Who could ever properly tell of the beauty

of such a blessed soul?

—Theodoros the Ascetic

50

Betapa indahnya kepala yang dihiasi

dengan mahkota yang tak ternilai

diset dengan sekelompok batu permata dari India dan mutiara.

Tapi dapat dibandingkan jauh lebih indah adalah jiwa

yang kaya akan pengetahuan dari Allah

dan diterangi oleh kontemplasi/perenungan yang paling bercahaya,

karena hal itu membuat Roh Kudus berdiam di dalamnya.

Siapa yang bisa selalu benar menceritakan keindahan

jiwa yang diberkati seperti itu?

— Theodoros sang pertapa

51

The fragrance of an expensive perfume,

even when it is kept in its jar,

will permeate every room in a house,

delighting not only the owners

but even the neighbors as well.

So it is with a saintly soul, loved by God,

for its fragrance will emanate

through all the senses of its body,

making known to those who can discern

the holiness that lies hidden within.

—Theodoros the Ascetic

51

Aroma semerbak dari parfum yang mahal,

bahkan ketika disimpan dalam guci,

akan meresasi setiap ruangan di rumah,

tidak hanya menggembirakan pemiliknya

tetapi bahkan tetangga juga.

Demikianlah halnya dengan jiwa yang suci, dikasihi oleh Allah,

karena aromanya akan memancarkan

melalui semua indera tubuhnya,

bagi mereka yang dapat memperbedakan

kekudusan yang tersembunyi di dalam.

— Theodoros yang pertapa

52

When you are in love,

surely your constant concern

is to be near the beloved

at any and every opportunity,

and you avoid anything that would hinder you

from being in the company and society

of your loved one.

So it is when someone loves God.

One constantly desires

to be with him and speak with him.

This can only be achieved through pure prayer,

so let us apply ourselves to prayer

with all our strength, for it makes us become like the Lord.

This is the meaning of the scripture that says:

“O God, my God, I cry to you at dawn;

my soul has thirsted after you.” [PS. 63:1 LXX]

This person who cries to God at dawn

signifies the spiritual intellect

that has withdrawn from every evil

and that has been wounded to the heart

by the love of God.

—Theodoros the Ascetic

52

Ketika Anda sedang jatuh cinta,

pasti Anda keprihatinan konstan

adalah untuk berada di dekat yang tercinta

pada setiap dan setiap kesempatan,

dan Anda menghindari apa pun yang akan menghalangi Anda

dari berada di dalam perusahaan dan masyarakat

kekasih Anda.

Jadi itu adalah ketika seseorang mengasihi Allah.

Satu terus-menerus keinginan

bersama Dia dan berbicara dengannya.

Ini hanya dapat dicapai melalui doa yang murni,

Jadi marilah kita menerapkan diri kita untuk berdoa

dengan segenap kekuatan kita, karena itu membuat kita menjadi seperti Tuhan.

Ini adalah arti tulisan kiatab suci yang berbunyi:

“Ya Allah, Engkaulah Allahku,

Aku Mencari Engkau, Jiwaku Haus Kepada-Mu,

Tubuhku Rindu Kepada-Mu,

Seperti Tanah Yang Kering Dan Tandus,

Tiada Berair. ” [MAZMUR 63:1 LXX]

Orang yang berseru kepada Allah pada saat fajar

menandakan keintelek spiritual

yang telah ditarik dari setiap kejahatan

dan yang telah terluka ke jantung

oleh kasih Allah.

— Theodoros yang pertapa

53

When love carries off the intellect to ecstasy

in mystical knowledge of the Divine

and it stands apart from existent realities,

it then becomes aware of the infinity of God.

It is at that moment, as Isaiah tells us,

that it is utterly outside itself

nd comes into a profound sense of its own smallness.

In its wonder it repeats the words of the prophet:

“Alas for me, for I am wounded in the heart.

I am a man of unclean lips,

dwelling among a people of unclean lips,

and I have seen the King, the Lord of Hosts,

with my own eyes.” [ISA. 6:5]

—Maximus the Confessor

53

Ketika cinta membawa NOUS ke ekstasi

pengetahuan mistik tentang ilahi

dan itu berdiri terpisah dari realitas yang ada,

itu kemudian menjadi sadar akan ketidakberhinggaan dari Allah.

Pada saat itu, seperti yang dikatakan Yesaya,

bahwa itu sama sekali di luar dirinya

datang ke dalam rasa yang mendalam dari kepicikannya sendiri.

Dalam ketakjubannya itu mengulangi perkataan Nabi:

“Lalu kataku: “Celakalah aku! aku binasa!

Sebab aku ini seorang yang najis bibir,

dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir,

namun mataku telah melihat Sang Raja,

yakni TUHAN semesta alam.” [YESAYA 6:5]

— Maximus sang Confessor

54

Blessed is that spiritual intellect

that travels beyond all existent realities

and comes into the endless delight

of the divine beauty.

—Maximus the Confessor

54

Berbahagia adalah NOUS

yang bergerak melampaui semua realitas yang ada

dan datang ke kenikmatan tanpa akhir

dari keindahan ilahi.

— Maximus sang Confessor

55

Do not despise Christ’s commandment of love,

for it is the means by which you can become

the child of God.

—Maximus the Confessor

55

Janganlah meremehkan perintah Kristus akan kasih,

karena itu adalah sarana yang melaluinya Anda dapat menjadi

Anak Allah.

56

The perfect peace of the holy angels

derives from their two fixed attitudes:

their love of God and their love for each other.

The same applies to the saints of all the ages.

This is why it is most truly said:

“On these two commandments

hang all the Law and the Prophets.” [MATT. 22:40]

— Maximus sang Confessor

56

Kedamaian sempurna dari para malaikat kudus

berasal dari dua sikap mereka yang tetap:

kasih mereka kepada Allah dan kasih mereka bagi satu sama lain.

Hal yang sama berlaku untuk para orang suci dari segala usia.

Inilah sebabnya mengapa hal ini paling benar berkata:

“Pada kedua perintah ini

menggantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. “[MATT. 22:40]

— Maximus sang Confessor

57

A person who has attained such a state of love

that their whole existence is ordered by it

is the one who can say,

“Jesus is Lord,” in the Holy Spirit. [1 COR. 12:3]

—Maximus the Confessor

57

Seseorang yang telah mencapai keadaan kasih seperti itu

bahwa seluruh eksistensi mereka diperintahkan oleh hal ini

adalah orang yang bisa berkata,

“Yesus adalah Tuhan,” dalam Roh Kudus. [1 KOR. 12:3]

— Maximus sang Confessor

58

The whole purpose of the Savior’s commandments

is to liberate the intellect

from its malice and crudeness

and to lead it into his love

and into love of one another.

Out of this love shines

the radiance of mystical knowledge

that God’s holy power makes possible in us.

—Maximus the Confessor

58

Seluruh tujuan dari perintah Juruselamat

adalah untuk membebaskan NOUS

dari kedengkian dan kekasaran

dan untuk membawanya ke dalam cintaNya

dan ke dalam cinta dari satu sama lain.

Dari cinta ini bersinar

pancaran pengetahuan mistik

bahwa kekuatan Kudus Allah memungkinkan di dalam kita.

— Maximus sang Confessor

The Philokalia By St Nikodimos Of The Holy Mountain On the Character of Men and on the Virtuous Life (27-30)

Nama: Geralda Aprillia Salindeho

Mata Kuliah: Etika Kristen

Tugas: 6

The Philokalia

By St Nikodimos Of The Holy Mountain

On the Character of Men and on the Virtuous Life

2 7. Concentration on holiness of living, together with attentiveness to the soul, lead to goodness and the love of God. For he who seeks God finds Him by overcoming all desires through persistence in prayer. Such a man does not fear demons.

2 7. Konsentrasi pada kekudusan hidup, bersama dengan perhatian pada jiwa, menuntun pada kebaikan dan kasih Allah. Karena dia yang mencari Tuhan menemukan Dia dengan mengatasi semua keinginan melalui kegigihan dalam doa. Orang seperti itu tidak takut pada setan-setan.

Penjelasan: Target di dalam doa setiap manusia bukan hanya bentuk dan gerak tubuh luar melainkan cobalah membuat intelek kita sadar akan dosa spiritual dengan rasa hormat. Jika kita sedang berdoa dengan tenang maka iblis tidak akan henti-hentinya menggoda sampai akhirnya berhasil menggoda dan lain kesempatan tidak berhasil menggoda. Didalam doa kita harus berjaga-jaga tapi berjaga-jaga tanpa dosa seperti tubuh tanpa jiwa. Jadi berjaga-jaga harus maju terlebih dahulu seperti Yosua yang pertama-tama mengintai tanah Kanaan. Jadi kalau hanya berjaga-jaga harus didukung dengan doa.

Doa juga dapat dilakukan dengan doa mengeluarkan suara atau Vocal prayer sudah termasuk dengan menjaga hati jadi kalau kita mau berdoa dengan vocal prayer kita harus memiliki kerendahan hati. Akan tetapi tidak semua vocal prayer adalah suatu tingkat doa yang khusus harus dengan hati yang hancur. Mental prayer dilakukan dengan cara meditasi dimana pikiran dan hati menyatu yang sudah termasuk NOUS yang sudah mengerti mau berkata apa. Biasanya dilakukan dalam keheningan. Di dalam kontemplasi sudah tidak disibukkan dengan segala musuh karena sudah dapat mengontrol hatinya yang berkeinginan untuk berdoa. Untuk penjelasan lebih lengkap (lihat artikel Tiga Metode doa di Hendi Tought alamat https://wordpress.com/read/blogs/17281495/posts/3241)

2 8. Those who are deluded by worldly hopes, and know how to practise the life of holiness only in theory, are like those who employ drugs and medical instruments without knowing how to use them or bothering to learn. Therefore, we must never blame our birth, or anyone but ourselves, for our sinful actions, because if the soul chooses to be indolent, it cannot resist temptation.

28. Mereka yang tertipu oleh harapan duniawi, dan tahu bagaimana mempraktikkan kehidupan kekudusan hanya secara teori, seperti mereka yang menggunakan obat-obatan dan peralatan medis tanpa mengetahui cara menggunakannya atau bersusah payah untuk belajar. Karena itu, kita tidak boleh menyalahkan kelahiran kita, atau siapa pun selain diri kita sendiri, atas tindakan berdosa kita, karena jika jiwa memilih untuk malas, itu tidak dapat menahan godaan.

Penjelasan:  Orang yang mempraktikan kehidupan rohani hanya secara teori seperti sedang tertipu oleh harapan duniawi. Mereka hanya seperti dokter yang mempraktekan alat medis yang dipelajarinya. Sampai akhirnya jika jiwa sudah mulai malas dengan keadaan tersebut maka tidak akan dapat lagi menahan godaan yang datang.

29. A man who cannot discriminate between good and evil has no right to judge who is good and who evil. The man who knows God is good. If someone is not good, he knows nothing of God and never will; for the way to know God is by means of goodness.

29. Seseorang di katakan tidak dapat membedakan mana yang baik dan mana yang jahat di sebabkan karena ia tidak mengenal Allah yaitu kebenaran itu sendiri.

Penjelasan: Allah telah mengaruniakan kepada kita Anak-Nya supaya kita mengenal yang benar dan kita ada di dalam yang benar yaitu di dalam Yesus Kristus (1 Yoh 5:20). Tanpa kita mengenal pribadi Anak-Nya kita tidak akan mengenal yang baik sebab hanya dengan mengenal Dialah kita mengetahui apa itu yang namanya kebaikan. Ketika kita tidak mengenal Allah hidup kita akan tetap berad di dalam dosa sebab hidup kita telah di kuasai oleh dosa. Ketika kita melakukan dosa pun kita tidak menyadari bahwa apa yang kita lakukan itu adalah dosa sebab kita tidak mengetahui apa itu kebenaran. Hanya melalui Dialah kita mengenal itu kebenaran dan apa itu kejahatan sebab Dialah yang akan memberikan kita pengertian tentang yang baik dan yang jahat melalui Roh Kudus yang bekerja di dalam hati kita. Tanpa mengenal Allah kita tidak akan pernah mengetahui apa-apa di dunia ini dan tidak akan pernah mengenal apalagi melakukan kebaikan. Jadi kenalah Dia yaitu sumber kebenaran supaya kita hidup dalam kebenaran.

30. Men who are good and enjoy the love of God rebuke evildoers to their face. But when evil-doers are not present, such people neither criticize them nor allow others to do so.

30. Orang-orang yang baik dan menikmati kasih Allah menegur satu dengan yang lain ketika melihat melakukan yang namanya kejahatan. Orang yang menegur atau memberikan nasehat kepada orang lain adalah orang yang telah mengenal apa itu kebenaran dan telah mengaplikasikannya ke dalam kehidupannya sendiri.

Penjelasan: Kebenaran itu adalah Kristus itu sendiri yang diam atau tinggal di dalam diri orang yang telah mengenal Dia yaitu kebenaran sehingga Dialah yang mengajar kita untuk saling menegur dan menasihati satu dngan yang lain ketika melakukan kejahatan (Col 3:16). Menegur orang lain dalam melakukan kejahatan adalah salah satu bukti kita mengasihi dia supaya tidak jatuh di dalam dosa. Tetapi orang-orang yang tidak menegur atau menasehati orang lain adalah orang yang tidak memiliki kasih yang hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri. Mengapa saya katakana demikian? Karena teguran itu membawa ke jalan kehidupan yang dapat mengubah sikap jalan kehidupan kita. Orang yang masih hidup dalam kejahatan adalah mereka yang masih hidup dalam duniawi yang hidupnya telah di kuasai oleh dosa. Yang hatinya telah di penuhi oleh perbuatan jahat dan Nousnya telah di penuhi oleh pikiran jahat (logismoi) sehingga yang ia pikirkan hanyalah melakukan kejahatan.

The Philokalia By St Nikodimos Of The Holy Mountain On the Character of Men and on the Virtuous Life (22-26)

Nama: Geralda Aprillia Salindeho

Mata Kuliah: Etika Kristen

Tugas 5

22. The intelligent soul endeavours to free itself from error, delusion, boastfulness, deceit, from jealousy, rapacity and the like, which are works of the demons and of man’s evil intent. Everything is successfully achieved through persistent study and practice when one’s desire is not impelled towards base pleasures.

22. Jiwa atau Nous ini, berusaha untuk membebaskan diri dari kesalahan, khayalan, kesombongan, tipu daya, dari kecemburuan, ketamakan dan sejenisnya, yang merupakan karya iblis dan niat jahat manusia. Dan Semuanya ini berhasil dicapai melalui studi dan latihan yang gigih, ketika keiginan seseorang tidak didorong menuju kesenangan dasar.

Penjelasan: Jiwa setiap manusia terus berjuang untuk terlepas dari pada jerat iblis yang terus menekan manusia. Latihan yang gigih sangat diperlukan untuk dapat melawan iblis tersebut.

2 3. Those who lead a ‘life of frugality and of self-privation deliver, themselves from dangers and have no need of protection. By overcoming all desire, they easily find the path that leads to God.

2 3. Mereka yang menjalani ‘kehidupan berhemat dan menjaga diri sendiri melepaskan, dari bahaya dan tidak membutuhkan perlindungan. Dengan mengatasi semua keinginan, mereka dengan mudah menemukan jalan yang mengarah kepada Tuhan.

Penjelasan: Orang yang dapat mengendalika diri mempunyai keuntungan untuk dapat berlindung dan memgatasi semua keinginan daging sendiri. Dan pada akhirnya dapat dengan mudah untuk mengarahkan diri kepada Allah.

24. Intelligent men have no need to listen to much talk, but should attend only to that which is profitable and guided by God’s will. For in this way men regain life and eternal light.

24. Manusia yang cerdas tidak perlu mendengarkan banyak bicara, tetapi harus memperhatikan hanya apa yang menguntungkan dan dibimbing oleh kehendak Allah. Karena dengan cara ini manusia mendapatkan kembali kehidupan dan cahaya kekal.

Penjelasan: Orang yang cerdas dapat memperhatikan hal yang sesuai dengan kehendak Allah. Oleh sebab pada akhir mendapatkan kehidupan dan cahaya kekal.

2 5. Those who seek to lead a life of holiness, enjoying the love of God, should free themselves from presumption and all empty and false self-esteem, and should try to correct their life and way of thinking. For an intellect that steadfastly enjoys the love of God is a way of ascent to Him.

25. Orang-orang yang berupaya menjalani kehidupan yang suci, menikmati cinta Tuhan, harus membebaskan diri mereka dari anggapan dan semua harga diri yang kosong dan salah, dan harus berusaha memperbaiki kehidupan dan cara berpikir mereka. Bagi seorang intelek yang gigih menikmati cinta Tuhan adalah cara untuk naik kepada-Nya.

Penjelasan: Cara hidup benar harus diupayakan dengan sangat oleh setiap orang mau manu menikmati kehiudpan suci dan cinta Tuhan dengan cara mengosongkan harga diri dan secara terus menerus memperbaiki kehidupan dan cara berpikir mereka. Sehingga pada akhirnya mereka dapat menuju kepda Allah.

26. There is no profit in studying doctrines unless the life of one’s soul is acceptable and conforms to God’s will. The cause of all evils is delusion, self-deception and ignorance of God.

26. Tidak ada untungnya dalam mempelajari doktrin kecuali kehidupan jiwa seseorang dapat diterima dan sesuai dengan kehendak Allah. Penyebab semua kejahatan adalah khayalan, penipuan diri sendiri dan ketidaktahuan akan Allah.

Penjelasan: Doktrin yang dipelajari oleh setiap manusia akan menjadi sia-sia jika tidak sesuai dengan kehendak Allah. Harus kita ketahui juga bahwa penyebab kejehatan terjadi adalah ketidatahuan akan Allah.

On the Character of Men and on the Virtuous Life (1-21)

Nama: Geralda Aprillia Salindeho

Mata Kuliah: Etika Kristen

Tugas: 4

  1. Men are often called intelligent wrongly. Intelligent men are not those who are erudite in the sayings and books of the wise men of old, but those who have an intelligent soul and can discriminate between good and evil. They avoid what is sinful and harms the soul; and with deep gratitude to God they resolutely adhere by dint of practice to what is good and benefits the soul. These men alone should truly be called intelligent.

Manusia sering menggunakan nous/mata jiwa/intelek/hati/mata batin secara keliru. Manusia. Manusia yang memiliki Nous bukanlah mereka yang terpelajar dalam perkataan dan buku-buku orang bijak di masa lalu, tetapi mereka yang memiliki nous yang cerdas, yang dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat. Mereka menghindari apa yang berdosa dan membahayakan jiwa; dan dengan rasa terima kasih yang dalam kepada Tuhan mereka berpegang teguh pada praktik untuk kebaikan dan memberi manfaat bagi jiwa. Manusia harus benar-benar memiliki nous atau intelek secara cerdas.

Penjelasan: Ciri-ciri orang yang memiliki nous yang cerdas adalah dapat membedakan yang baik dan yang jahat, berpegang teguh di dalam kebaikan dan dapat bermanfaat bagi dirinya.

2. The truly intelligent man pursues one sole objective: to obey and to conform to the God of all. With this single aim in view, he disciplines his soul, and whatever he may encounter in the course of his life, he gives thanks to God for the compass and depth of His providential ordering of all things. For it is absurd to be grateful to doctors who give us bitter and unpleasant medicines to cure our bodies, and yet to be ungrateful to God for what appears to us to be harsh, not grasping that all we encounter is for our benefit and in accordance with His providence. For knowledge of God and faith in Him is the salvation and perfection of the soul.

Orang yang benar-benar memiliki nous mengejar satu tujuan: untuk taat dan untuk menyesuaikan diri dengan Allah. Dengan tujuan satu ini, ia mendisiplinkan jiwanya, dan apa pun yang mungkin ia temui dalam perjalanan hidupnya, ia bersyukur kepada Allah atas pedoman dan kedalaman pemeliharaanNya yang teratur untuk segala sesuatu. Tidak mungkin kita tidak berterima kasih kepada dokter yang memberi kita obat-obatan yang pahit dan tidak enak untuk menyembuhkan tubuh kita, tetapi bersyukur kepada Allah untuk apa yang tampaknya keras bagi hiudp kita, tidak memhami bahwa semua itu adalah untuk kebaikan kita dan sesuai dengan kehendak-Nya. Karena pengetahuan akan Allah dan iman kepadaNya adalah keselamatan dan kesempurnaan jiwa.

Penjelasan: Kehidupan kita seharusnya mengikuti kehendak Allah apa yang Allah mau dalam kehidupan kita karena itu semua untuk melatih jiwa kita. Dan selalu menaikan syukur kepada Allah untuk segala sesuatu yang Allah berikan kepada kita.

3. We have received from God self-control, forbearance, restraint, fortitude, patience, and the like, which are great and holy powers, helping us to resist the enemy’s attacks. If we cultivate these powers and have them at our disposal, we do not regard anything that befalls us as painful, grievous or unbearable, realizing that it is human and can be overcome by the virtues within us. The unintelligent do not take this into account; they do not understand that all things happen for our benefit, rightly and as they should, so that our virtues may shine and we ourselves be crowned by God.

Kita telah menerima dari Allah seperti penguasaan diri, kesabaran, pengekangan, ketabahan, kesabaran, dan sejenisnya, yang merupakan kekuatan yang besar dan kudus, membantu kami melawan serangan – serangan musuh. Jika kita menumbuhkan kekuatan ini dan memilikinya, kita tidak menganggap apa pun yang menimpa kita sebagai hal yang menyakitkan, pedih, atau tak tertahankan, menyadari bahwa itu adalah manusia dan dapat diatasi dengan kebajikan di dalam diri kita. Orang yang tidak memiliki nous tidak memperhitungkan hal ini; mereka tidak mengerti bahwa semua hal terjadi untuk kebaikan kita, dengan benar dan sebagaimana mestinya, sehingga kebajikan kita dapat bersinar dan kita sendiri dimahkotai oleh Allah.

Penjelasan: Orang yang intelegent dapat menguasai diri, kesabaran, pengekangan, ketabahan, keabaran.

4. You should realize that the acquisition of material things and their lavish use iss only a short-lived fantasy, and that a virtuous way of life, conforming to God’s will, surpasses all wealth. When you reflect on this and keep it in mind constantly, you will not grumble, whine or blame anyone, but will thank God for everything, seeing that those who rely on repute and riches are worse off than yourself. For desire, love of glory and ignorance constitute the worst passion of the soul.

Kamu harus menyadari bahwa perolehan benda-benda material dan penggunaannya yang mewah hanyalah fantasi yang fana, dan bahwa kebajikan yang dilakukan menurut kehendak Allah melampaui semua kekayaan itu. Ketika kamu merenungkan hal ini dan terus mengingatnya, kamu tidak akan menggerutu, merengek atau menyalahkan siapa pun, tetapi akan berterima kasih kepada Tuhan atas segalanya, melihat bahwa mereka yang mengandalkan reputasi dan kekayaan lebih buruk daripada diri Anda sendiri. Untuk nafsu, cinta akan kemuliaan dan ketidakmautauan atau tidak peduli merupakan nafsu terburuk dari jiwa.

Penjelasan: Benda yang materi adalah hal yang fana dan bukan sesuatu yang bernilai kekal Akan tetapi benda milik kita yang bernilai kekal adalah dapat memiliki Yesus. Karena kita telah memiliki Yesus yang mempunyai segala sesuatu di dunia ini maka semua hal itu sudah tidak diperlukan lagi.

5. The intelligent man, examining himself, determines what is appropriate and profitable to him, what is proper and beneficial to the soul, and what is foreign to it. Thus he avoids what is foreign and harmful to the soul and cuts him off from immortality.

Orang yang memiliki nous, memeriksa dirinya sendiri, menentukan apa yang pantas dan menguntungkan baginya, apa yang asing bagi jiwanya. Karena itu ia menghindari apa yang asing dan berbahaya bagi jiwa dan melenyapkannya selamanya.

Penjelasan: Setiap orang Kristen yang sudah dapat menguasai NOUS bisa memeriksa dirinya sendiri dan hal apa yang menguntungkan dirinya dan dapat menghindari hal yang berbahaya bagi jiwanya

6. The more frugal a man’s life, the happier he is, for he is not troubled by a host of cares: slaves, farm-workers or herds. For when we are attached to such things and harassed by the problems they raise, we blame God. But because of our self-willed desire we cultivate death and remain wandering in the darkness of a life of sin, not recognizing our true self.

Semakin sederhana hidup manusia, semakin dia bahagia, karena dia tidak terganggu oleh sejumlah masalah: budak, buruh tani atau ternak. Karena ketika kita terikat pada hal-hal seperti itu dan dilecehkan oleh masalah yang mereka angkat, kita menyalahkan Allah. Tetapi karena keinginan nafsu kita sendiri, kita memupuk kematian dan tetap berkeliaran dalam kegelapan kehidupan dosa, tidak mengakui diri kita yang sejati.

Penjelasan: Kehidupan manusia di dunia ini tidak akan terikat dengan benda-benda ataupun dengan orang lain yang bergantung pada dirinya jika kehidupan sederhana yang dijalaninya.

7. One should not say that it is impossible to reach a virtuous life; but one should say that it is not easy. Nor do those who have reached it find it easy to maintain. Those who are devout and whose intellect enjoys the love of God participate in the life of virtue; the ordinary intellect, however, is worldly and vacillating, producing both good and evil thoughts, because it is changeful by nature and directed towards material things. But the intellect that enjoys the love of God punishes the evil which arises spontaneously because of man’s indolence.

Seseorang seharusnya tidak mengatakan bahwa tidak mungkin untuk mencapai kehidupan yang baik; tetapi orang harus mengatakan bahwa itu tidak mudah. Mereka yang telah mencapainya juga tidak mudah dijaga. Mereka yang saleh dan yang memiliki nous menikmati cinta Allah berpartisipasi dalam kehidupan kebajikan; pikiran biasa, bagaimanapun, adalah duniawi dan bimbang, menghasilkan pikiran baik dan jahat, karena sifatnya berubah-ubah dan diarahkan pada hal-hal materi. Tetapi nous/intelek yang menikmati cinta Allah menghukum kejahatan yang muncul secara spontan karena kemalasan manusia.

Penjelasan:  Di dunia ini tidak ada hal yang tidak mungkin yang ada hanyalah ketidakmudahan dan kemalasan yang menghantui setiap manusia. Orang yang hidup di dalam Allah akan menikmati cinta Allah ditengah ketidakmudahan yang mereka rasakan.

8. The uneducated and foolish regard instruction as ridiculous and do not want to receive it, because it would show up their uncouthness, and they want everyone to be like themselves. Likewise those who are dissipated in their life and habits are anxious to prove that everyone else is worse than themselves, seeking to present themselves as innocent in comparison with all the sinners around them. The lax soul is turbid and perishes through wickedness, since it contains within itself profligacy, pride, insatiate desire, anger, impetuosity, frenzy, murderousness, querulousness, jealousy, greed, rapacity, self-pity, lying, sensual pleasure, sloth, dejection, cowardice, morbidity, hatred, censoriousness, debility, delusion, ignorance, deceit and forgetfulness of God. Through these and suchlike evils the wretched soul is punished when it is separated from God.

Mereka yang tidak berpendidikan dan bodoh menganggap pengajaran sebagai tertawaan dan tidak ingin menerimannya, karena itu akan menunjukkan sikap kasar mereka, dan mereka ingin setiap orang menjadi seperti diri mereka. Demikian juga mereka yang hilang dalam kehidupan dan mereka biasanya ingin membuktikan bahwa orang lain lebih buruk dari pada diri mereka sendiri. Mereka berusaha memperlihatkan diri mereka sebagai orang yang tidak bersalah dibandingkan dengan semua orang yang tampak berdosa disekitar mereka. Jiwa lemah adalah keruh dan kejahatan menuju kebinasaan, karena di dalam dirinya mengandung mengandung ketidak senonohan, kesombongan, keinginan yang tidak pernah puas, kemarahan, ketidaksabaran, kegilaan, pembunuhan, pertengkaran, kecemburuan, keserakahan, nafsu kesenangan, mengasihani diri sendiri, berbohong, kesenangan sensual, kemalasan, kesedihan, pengecut, keadaan tidak sehat (mordibiditi), kebencian, pencela, kelemahan, khayalan, ketidaktahuan, penipuan, dan kelupaan akan Allah. Hal semacam ini dan kejahatan sedemikian merusak jiwa dan dihukum ketika terpisah dari Allah

Penjelasan: Orang yang tidak hidup didalam Allah menganggap bahwa kebenaran hanyalah lelucon belaka sampai akhirnya mereka hidup di dalam kebisaan buruk yang terus menerus membuat mereka merasakan kenyamanan. Akan tetapi, merusak jiwa mereka.

9. Those who aim to practise the life of virtue and holiness should not incur condemnation by pretending to a piety which they do not possess. But like painters and sculptors they should manifest their virtue and holiness through their works, and should shun all evil pleasures as snares.

Mereka yang ingin mempraktikan kehidupan kebajikan dan kekudusan seharusnya tidak mengganggap diri berpura-pura saleh. Tetapi seperti pelukis dan pematung, mereka harus menyatakan kebajikan dan kekudusan melalui karya-karya mereka, dan mereka harus menjauhi segala kesenangan jahat yang seperti jerat.

Penjelasan: Jika kita ingin menjelani kehidupan yang penuh dengan kebajikan dan kekudusan seharusnya itu bukan suatu kepura-puraaan. Melainkan itu adalah kesenangan dalam menghidari jerat

10. A wealthy man of good family, who lacks inward discipline and all virtue in his way of life, is regarded by those with spiritual understanding as under an evil influence; likewise a man who happens to be poor or a slave, but is graced with discipline of soul and with virtue in his life, is regarded as blessed. And just as strangers travelling in a foreign country lose their way, so those who do not cultivate the life of virtue are led astray by their desires and get completely lost.

Seorang kaya dari keluarga baik-baik, yang kurang disiplin di dalam semua kebajikan dari cara hidupnya, dianggap oleh mereka yang rohani sebagai orang yang berada di bawah pengaruh kejahatan; demikian juga mereka yang kebetulan miskin atau budak, yang tetap diberkahi dengan disiplin jiwa, dan dengan kebenaran dalam hidupnya, maka dianggap diberkati. Dan sama seperti orang asing yang bepergian di negara asing tersesat, begitu juga dengan mereka yang tidak memupuk kehidupan kebajikan akan disesatkan oleh keinginan mereka dan benar-benar tersesat.

Penjelasan: Kita tidak boleh menganggap orang kaya sebagai orang yang melakukan kejahatan karena tidak semua orang kaya berlaku jahat dapat saja orang terebut melakukan kebajikan dengan apa yang mereka miliki

11. Those who can train the ignorant and inspire them with a love for instruction and discipline should be called moulders of men. So too should those who reform the dissolute, remodelling their life to one of virtue, conforming to God’s will. For gentleness and self-control are a blessing and a sure hope for the souls of men.

Mereka yang bisa melatih orang-orang bodoh dan menginspirasi mereka dengan kasih melalui pengajaran dan disiplin akan disebut pembentuk manusia. Demikian juga mereka yang akan melakukan pembaruan moral, mengubah hidup mereka kepada suatu kebajikan, menyesuaikan diri dengan kehendak Tuhan. Kelemah-lembutan dan pengendalian diri adalah sebuah berkat dan sebuah harapan yang pasti bagi jiwa manusia.

Penjelasan: Ciri dari pada orang yang memiliki kasih di dalam kehidupannya adalah dapat membawa orang sesat ke jalan yang benar serta mengajar dengan penuh kelemah –lembutan

12. A man should strive to practise the life of virtue in a genuine way; for when this is achieved it is easy to acquire knowledge about God. When a man reveres God with all his heart and with faith, he receives through God’s providence the power to control anger and desire; for it is desire and anger which are the cause of all evils.

Seorang manusia hendaklah berusaha keras untuk mempraktikkan kehidupan kebajikan di dalam satu ketulusan; karena ketika hal ini tercapai maka sangat mudah untuk memperoleh pengetahuan tentang Allah.  Ketika seseorang menghormati Allah dengan segenap hati dan dengan iman, maka melalui pemeliharaan Allah dia menerima kekuatan untuk mengendalikan amarah dan nafsu keinginannya; karena keinginan dan amarahlah yang menjadi penyebab semua kejahatan.

Penjelasan: Ketika orang percaya berusaha dengan keras menjalani hidup yang bijak maka pengenalan akan Allah dengan sendirinya akan dinyatakan kepadanya

13. A human being is someone who possesses spiritual intelligence or is willing to be rectified. One who cannot be rectified is inhuman. Such people must be avoided: because they live in vice, they can never attain immortality.

Manusia adalah seseorang yang memiliki kecerdasan spiritual atau bersedia untuk diperbaiki. Mereka yang tidak bisa diperbaiki bukan manusia. Orang-orang seperti itu harus dihindari: karena mereka hidup dalam kejahatan, mereka tidak akan pernah bisa mencapai keabadian.

Penjelasan: Orang yang kehidupannya dipenuhi dengan kejahatan akan sangat sulit diperbaiaki dan merekapun disebut sebagai bukan manusia

14. When the intelligence is truly operative, we can properly be called human beings. When it is not operative, we differ from animals only in respect of our physical form and our speech. An intelligent man should realize that he is immortal and should hate all shameful desires, which are the cause of death in men.

Ketika kecerdasan (Nous) benar-benar berfungsi, maka kita disebut manusia. Ketika tidak berfungsi, kita tidak berbeda dengan binatang kecuali secara fisik dan bisa berbicara. Manusia yang memiliki kecerdasan nous akan menyadari bahwa dia abadi dan membenci semua keinginan/hasrat yang memalukan, yang menyebabkan kematian bagi manusia atau bagi dirinya sendiri,

Penjelasan: Hanya manusia yang dapat mempergunakan NOUSnya dengan baik. Jadi ketika tidak berfungsi kita akan disebut binatang dan itu merupakan kematian bagi manusia

15. Every craftsman displays his skill through the material he uses: one man, for instance, displays it in timber, another in copper, another in gold and silver. Likewise we who are taught the life of holiness ought to show that we are human beings not merely by virtue of our bodily appearance, but because our souls are truly intelligent. The truly intelligent soul, which enjoys the love of God, knows everything in life in a direct and immediate way; it lovingly woos God’s favour, sincerely gives Him thanks, and aspires with all its strength towards Him.

Setiap pengrajin memamerkan keahliannya melalui bahan yang ia gunakan: satu orang, misalnya, memajangnya di kayu, yang lain di tembaga, yang lain di emas dan perak. Demikian juga kita yang diajari kehidupan kekudusan harus menunjukkan bahwa kita adalah manusia bukan hanya berdasarkan penampilan jasmani kita, tetapi karena jiwa kita benar-benar cerdas/memiliki nous. Jiwa yang benar-benar cerdas, yang menikmati kasih Allah, mengetahui segala sesuatu dalam hidup secara langsung; itu penuh kasih kebaikan Allah, dengan tulus berterima kasih kepada-Nya, dan menggunakan semua kekuatan untuk mengasihi Dia.

Penjelasan: Allah mengharapkan manusia yang merupakan ciptaanNya menjadi pribadi yang dapat mempergunakan kecerdasan yang diberikan Tuhan dengan sangat baik. Kemudian dapat mempergunakan segala sesuatu untuk memuliakan Allah

16. When navigating, helmsmen use a mark in order to avoid reefs or rocks. Likewise those who aspire to the life of holiness must mark carefully what they ought to do and what they ought to avoid; and, cutting off evil thoughts from the soul, they must grasp that the true, divine laws exist for their profit.

Saat bernavigasi, juru mudi menggunakan tanda untuk menghindari terumbu atau batu. Demikian juga mereka yang bercita-cita untuk kehidupan kudus harus menandai dengan hati-hati apa yang harus mereka lakukan dan apa yang harus mereka hindari; dan, memotong pikiran jahat dari jiwa, mereka harus memahami bahwa hukum ilahi yang benar ada demi kebaikan mereka.

Penjelasan: Kehidupan yang kudus harus dapat kia jalani dengan penuh kehati-hatian dengan memotong pikiran jahat dari jiwa

17. Helmsmen and charioteers gain proficiency through practice and diligence. Likewise those who seek the life of holiness must take care to study and practise what conforms to God’s will. For he who so wishes, and has grasped that it is possible, can with this faith attain incorruptibility.

Para juru mudi dan kusir mendapatkan kecakapan melalui latihan dan ketekunan. Demikian juga mereka yang mencari kehidupan kudus harus berhati-hati untuk mempelajari dan mempraktikkan apa yang sesuai dengan kehendak Allah. Karena dia yang menginginkan, dan telah memahami bahwa itu mungkin, dapat dengan iman ini mencapai kekekalan.

Penjelasan: Melalui ketekunan dan latihan yang sungguh memungkinkan manusia dapat hiudp kudus yang sesuai dengan kehendak Allah

18. Regard as free not those whose status makes them outwardly free, but those who are free in their character and conduct. For we should not call men in authority truly free when they are wicked or dissolute, since they are slaves to worldly passions. Freedom and happiness of soul consist in genuine purity and detachment from transitory things.

Kebebasan bukan mereka yang statusnya secara lahiriah bebas, tetapi mereka yang bebas dalam karakter dan perilaku. Karena kita tidak menyebut manusia yang benar-benar bebas ketika mereka jahat atau hancur, karena oleh karena diperbudak nafsu duniawinya. Kebebasan dan kebahagiaan jiwa terdiri dari kemurnian dan keterasingan sejati dari hal-hal yang sementara.

Penjelasan: Orang yang dikatakan bebas adalah orang yang telah bebas dari pada semua hal jahat yang mempengaruhi kehidupannya dari hari lepas hari

19. Keep in mind that you must always be setting an example through your moral life and your actions. For the sick find and recognize good doctors, not just through their words, but through their actions.

Ingatlah bahwa kita harus selalu memberi contoh melalui kehidupan moral dan tindakan kita. Bagi orang sakit, temukan dan kenali dokter yang baik, tidak hanya melalui kata-kata mereka, tetapi juga melalui tindakan mereka.

Penjelasan: Kehidupan orang percaya seharusnya menjadi contoh dalan moral dan tindakan

20. Holiness and intelligence of soul are to be recognized from a man’s eye, walk, voice, laugh, the way he spends his time and the company he keeps. Everything is transformed and reflects an inner beauty. For the intellect which enjoys the love of God is a watchful gate-keeper and bars entry to evil and defiling thoughts.

Kekudusan dan intelek jiwa harus dikenali dari apa yang ia lihat, jalan, berbicara, tertawa, cara dia menghabiskan waktu dan teman-teman yang bersamanya. Semuanya ditransformasikan dan mencerminkan kecantikan batin. Sebab intelek yang menikmati kasih Allah adalah penjaga gerbang dan pegahalang-penghalang yang mencegah masuknya pikiran jahat dan cemar.

Penjelasan: Kekudusan dapat dilihat dari bagaimana seseorang dapat hidup dari hari lepas hari bersama dengan orang lain

21. Examine and test your inward character; and always keep in mind that human authorities have power over the body alone and not over the soul. Therefore, should they command you to commit murders or other foul, unjust and soul-corrupting acts, you must not obey them, even if they torture your body. For God created the soul free and endowed with the power to choose between good and evil.

 Periksa dan uji karakter batiniah Anda; dan selalu ingat bahwa kita  memiliki kekuasaan atas tubuh dan juga jiwa. Karena itu, jika mereka memerintahkan kita untuk melakukan pembunuhan atau tindakan curang, tidak adil dan merusak jiwa lainnya, kita tidak harus mematuhinya, bahkan jika mereka menyiksa tubuh kita. Karena Allah menciptakan jiwa yang bebas dan diberkahi dengan kekuatan untuk memilih antara yang baik dan yang jahat.

Penjelasan: Pengujian batin sangat diperlukan dimana kita dapat mengetahui seberapa kita dapat berkuasa atas tubuh kita dan perbuatan baik dapa yang dapat kita lakukan untuk Allah.

Keselamatan Reform dan Orthodox

Nama: Geralda Aprillia Salindeho

Mata Kuliah: Dogmatika 4

Tugas: 6

Berbicara mengenai keselamatan dari Gereja Timur dan Gereja Barat. Gereja Timur berbicara berdasarkan inkarnasi dan wahyu yang jelas-jelas Allah menampakan daging di dalam Yesus Kristus. Kalau Gereja Barat berdasarkan filsafat yaitu filsafat Skolastika menurut pendapat Amsal dari Katembori. Keselamatan di dalam Gereja Timur bukan karena pembenaran tapi pemulihan kodrat dan manunggal dengan Allah. Gereja Barat berbicara tentang transaksi hukum (Yudisial) jadi menurut Amsal manusia jatuh ke dalam dosa dan tidak berkenan kepada Allah sehingga membuat Allah murka. Kehadiran Allah yang marah ini harus dibayar sesuai oleh sebab itulah harus dibayar. Karena manusia tidak ada yang bisa membayar maka Anak Allah yaitu Yesus Kristus dihukum oleh Allah untuk memuaskan keadilan Allah dengan dihukum di atas kayu salib sehingga orang yang percaya kepada Yesus maka orang tetrsebut akan dibebaskan tapi yang dilihat disini Yesus bukan orang yang percaya. Karena dilihat dari Yesus Kristus maka manusia tidak punya kehendak bebas ini yang sering disebut bejat total. Karena manusia bejat total maka manusia tidak bisa memilih percaya atau tidak sehingga Allah yang memilih (Predestinasi). Ajaran Wesley juga percaya pada ajaran bejat total.

Iman Orthodox bukan dari Kristen modern tapi dari Bapa-Bapa Gereja berasal dari pedoman Pengakuan Iman Nikea yang melalui konsili-konsili sudah disahkan oleh gereja. Keputusan bersama gereja bukan pendapat perorang yang akhirnya menjadi pagar bagaimana iman Orthodox dilindungi. Dari denominasi Protestan dilihat manusia telah jatuh ke dalam dosa sehingga natur manusia kodratnya dosa sedangkan di Orthodox dosa seperti benalu yang menempel kepada manusia karena natur manusia adalah gambar dan rupa Allah.  Di dalam Kej. 1:26-27 Para Bapa Gereja menetapkan ayat ini sebagai hakekat dari pada manusia. Jika manusia diciptakan menurut Allah itu yang menyebabkan Allah menjadi manusia yaitu Yesus Kristus menjadi prototype manusia (Kol. 1:16). Manusia juga memiliki sifat dari Allah yaitu kekekalan atau keabadian dan seharusnya manusia memang diciptakan tetapi tidak ada akhir karena kekekalan. Kekekalan, keadilan, kasih dll adalah hal yang hanya dimiliki manusia dan tidak dimiliki binatang. Gambar adalah foto sedangkan rupa adalah wajah manusia. Jadi manusia bukan hanya mereflesikan Allah tetapi juga menjadi seperti Allah. Karena manusia diciptakan Allah sejak kekal di dalam dirinya adalah kasih jadi sebelum dunia di jadikan Allah Tritunggal saling mengasihi jadi ada cinta kasih timbal balik (Yoh. 17: 24).

Di dalam konteks cinta kasih Allah (Rom. 5:5). Roh Kudus yang kekal berfungsi untuk mencurahkan kasih kepada manusia ketika manusia telah diciptakan (Ibrani 9:14). Oleh karena itulah Allah mengasihi putra melalui Roh kudus dan putra mengembalikan kasih Allah melalui Roh Kudus untuk itulah hakekat Allah adalah kasih (1 Yohanes 4:8; 16). Jadi didalam Calvinisme memakai kedaulatan Allah. Di dalam butir pertama Pengakuan Iman Nikea “Aku percaya kepada satu Allah yang maha kuasa” disini terlihat bagaimana Allah sangat berkuasa akan tetapi kasih tidak akan dapat terlepas dari pada Allah. Oleh karena itu kita tidak melihat Allah dari pada filsafat yang Maha Kuasa tapi dari Tritunggal jadi terserah Allah mau lakukan apa saja.

Kasih Ilah yang kekal itu ada di dalam diri Allah padahal kasih itu bersifat menjangkau keluar sama seerti manusia kalau kita mengasihi seseorang seperti “Aku cinta padamu” atau kado, jadi kasih tidak hanya berdiam di dalam diri hal ini sama seperti Allah yang mempunyai kasih di dalam dirinya ingin menjangkau keluar padahal tidak ada orang lain diluar dirinya. Pada saat inilah baru Allah menunjukan ke-Maha Kuasa-anNya yaitu menciptakan makhluk hidup yang didalamnya ada Yesus. Jika hal ini disangkut pautkan dengan kesematan di dalam predestinasi. Kita harus ingat bahwa kasih Allah mengendalikan kedaulatan Allah. Oleh sebab itulah kita harus lihat di dalam Mat. 25:41 bahwa Allah hanya menyiapkan neraka untu iblis dan malaikat-malaikatnya oleh sebab itulah manusia tidak diciptakn di dalam predestinasi karena manusia diciptakan untuk dapat menikmati kasih Allah di dalam kekekalan. Tujuan manusia diciptakan untuk dapat mengambil bagian dari pada kodrat ilahi (2Petr. 1:4).

Jika kita anak Allah seharusnnya kita menjadi seperti Allah walaupun masih samar-samar dan keselamatan bukan hanya diselamatkan tapi ambil bagian di dalam dia atau theosis (1Yoh. 3:2). Itulah tujuan Allah menciptakan manusia dengan manusia memiliki kehendak bebas Allah tahu ada resiko mansuia mau menerima Allah atau tidak jadi bukan Allah yang menetukan. Contohnya di dalam Kej. 2:16-17 yang dengan jelas Allah memberi pilihan untuk dapat makan atau tidak dan kemudian di ayat 17 Allah memberikan perintah dengan penuh kehendak bebas pada saat itu dapat dilihat bahwa manusia sedang berada di persimpangan jalan. Karena manusia tidak mematuhi Allah manusia akan mati hal ini bukan karena Allah menghukum tapi memang pilihan dari pada manusia sendiri.

Di dalam Yohanes 1: 1; 3 mengigatkan di dalam Firman dan anak Allah manusia dan alam semesta diciptakan (Ibr. 1:2). Allah telah mengantisipasi dengan menyiapkan prototip dari pada manusia jika manusia tidak bisa naik untuk theosis dan yang dipilih Allah adalah Yesus Kristus untuk menjadi sarana penebus (1Petr. 1:20). Jadi, Allah kerjanya tidak tambal sulam. Jadi manusia tidak bisa saling menghujat dan membunuh tidak pandang agama apapun menunjukan bahwa mansuai masih kodrat yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah dosa adalah sesuatu yang menempel pada manusia (Yak. 3:9). Jadi akibat dari pada kejatuhan manusia adalah maut yang menjalar kepada setiap keturunan manusia (Rom. 5:12).

Ketelanjangan membuat sinar yang ada di dalam diri Adam hilang akhirnya mansuai menjadi lapuk2, tua dan binasa. Biasanya di didalam Rom. 3:10-18 diambil untuk mendukung pendapat calvin mengenai bejat total merupakan kutipan-kutipan dari pada perjanjian lama contohnya di dalam Mazmur 14:1-3 dan Maz. 53:2-4; maz. 5:10; maz. 10:7; Yes. 59:7-8; Maz; 56:2. Di samping berbicara mengenai mati secara fisik terdapat juga pendapat mati secara Roh yang dimaksud disini adalah orang yang mati karena terpisah dengan Allah (ef. 2:2; mat. 8:21-22). Di dalam Ef. 4:17 dikatan bahwa kehidupan kita harus diisi dengan hal-hal yang bermanfaat agar kehidupan kita tidak berakhir dengan kesia-siaan. Amin!

Referensi: Video Romo Daniel Biyantoro dari Keselamatan Reform dan Orthodox

Adam dan Kristus

Nama: Geralda Aprillia Salindeho

Mata Kuliah: Dogmatika 4

Tugas:5

Ketika manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah seharusnya Adam hidup menurut dan taat akan kehendak Allah. Di dalam gambar Allah ada ketaatan yang diselingi dengan kehendak bebas di dalam diri manusia karena manusia tidak diciptakan seperti robot yang dapat dikontrol. Kita dapat mengambil contoh relasi Allah dengan Kristus yang adalah kasih di dalam ketaatan. Ketaatan Kristus kepada Bapa memiliki kehendak bebas karena jika tidak ada kehendak bebas maka tidak akan ada ketaatan berarti kehendak bebas harus dijalani di dalam wujud ketaatan agar serupa dengan Allah. Tetapi, karena di dalam perjalanannya Adam jatuh di dalam dosa atau tidak taat hal itulah yang memicu timbul hal yang dinamankan dosa karena di dalam kehendak bebas Adam tidak taat. Allah itu kasih maka di dalam diri manusia ada kasih. Allah itu pribadi yang cerdas makanya manusia juga cerdas yang dapat menciptakan penemuan yang hebat. Allah itu adil oleh sebab itulah manusia juga memiliki keadilan di dalam dirinya. Semua gambar Allah ada di dalam diri manusia. Waktu Adam dan Hawa diciptakan mereka adalah gambar yang menuju rupa kesempurnaan.

Di dalam Kejadian 3:3; 6 terdapat kisah ular menjadikan Adam dan Hawa menjadi sombong dan tidak taat. Hal itu dilakukan karena iblis tahu bahwa manusia diciptakan untuk taat dan akan menjadi seperti Allah. Yang dimanfaatkan iblis dari manusia adalah ketaatan dan kehendak bebas. Di dalam Kejadian 2:26-17 dimana Tuhan memberi sebuah perintah kepada Adam untuk tidak memakan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat dan didalam Kejadian 3:3; 6 disini dikatakan bahwa Adam dipengaruhi oleh keegoisannya. Jika perintah di langgar ketaatan menjadi ketidaktaatan hal ini yang sering disebut dosa. Jadi yang membuat Adam jatuh ke dalam dosa bukan karena hal lain melainkan kesombongan yaitu ingin menjadi sama seperti Allah. Seharusnya di dalam ketaatan dan kehendak bebasnya manusia menjadi sama seperti Allah bukan mau menjadi Allah. Yang menjadi titik lemah manusia adalah keinginan menjadi seperti Allah. Bagaimanapun Adam dipengaruhi karena keegoisannya ingin menjadi Allah adalah untuk mencapai kesempurnaan melalui dirinya sendiri bukan lagi melalui Allah. Hal ini membuat Adam tidak dapat menikmati anugerah Allah lagi. Dosa Adam yang membuat dirinya sendiri tidak mendapatkan hidup kekal.

Kejadian 1:3-6 dimana ular memutar balikkan keadaan dengan mengoda Hawa kemudian menipu dia dan hal ini membuat dosa masuk ke dalam Taman Eden. Itulah kenapa yang disebut dengan dosa seharusnya gambar Allah berjalan lurus tetapi karena gambar Allah menjadi tidak dapat berjalan lurus. Jadi natur dosa dapat memisahkan kita dengan Allah. Kita dilahirkan seperti gambar Allah akan tetapi apa yang ada di dalam gambar Allah sudah mendapat konsekwensi dari pada dosa Adam. Kita tidak percaya Yesuspun kita tetap mewarisi dosa dari pada Adam. Manusia mendapatkan akibat dari pada dosanya Adam sedangkan dosa akan ditanggung Adam seorang diri. Manusia akan lahir baru, bertumbuh (purification) dan Theosis. Konsekwensi dosa Adam adalah kematian yang mengakibatkan keturunan adam berdosa.

Waktu manusia pertama kali dilahirkan manusia telah mengalami The Old Adam yang dimana ketaatan dan kehendak Allah yang sudah tekontaminasi dosa (sperma dan ovum) sedangkan The New Adam (iman dan anugerah). Kita percaya ataupun tidak pada the old Adam kematian akan menghampiri kita sedangkan The New Adam harus iman. Kehendak Allah atas Adam menjadi serupa dengan Allah di dalam augerah Allah sedangkan kehendak Adam ingin menjadi Allah sehingga melakukan ketidaktaatan dan akhirnya terpisah dari Allah. Kita harus ingat bahwa manusia pada esessinya tidak dapat mati karena akan ada kebangkitan. Potensi dosa di dalam diri Adam dan Hawa menjadi actual ketika mereka menghasilkan keturunan.Jhon Klimakos  menuliskan bahwa: “Setelah manusia dibabtis ada satu lagi babtisan yang lebih besar dan jika saya bisa dengan berani saya akan berkata demikian adalah babtisan yang lebih besar adalah air mata kita jadi kalau kita dibabtis dosa masa lampau kita dibersihkan menjadi baru dengan karunia belaskasihan Allah dengan kasih karunia dan belaskasihan Allah.

Di dalam Roma 6:1-2; 5:20-21 tertulis jika kita sudah berada di dalam dosa seharsunya kita dapat meminta kasih karunia Allah dengan repentance with tears. Secara pengetahuan kita mengetahui hal baik dan yang jahat dimana kita harus terus berjuang melawan dosa (Rom. 7:16-18). Air mata yang terjadi di dalam pertobatan untuk membersihkan diri, penyesalan. Anggota tubuh kita harus dijaga agar tidak diserahkan di dalam dosa melainkan kepada Allah agar dijadikan senjata kebenaran (Rom. 6:13). Menyerahkan anggota tubuh sama dengan menyalibkan daging kita (Gal. 5:24). Oleh sebab itulah kita harus terus menerus menyerahkan diri kita tanpa henti kepada Allah sebagai langkah agar kita dapat diperbaharui oleh Allah setiap harinya.

Study Tafsir Kejadian 1

(Menurut Origen)

Nama: Geralda Aprillia Salindeho

Mata Kuliah: Study Tafsir PB 4

Tugas: 5

Cerita didalam Perjanjian Lama tidak hanya merupakan cerita sejarah melainkan Christ centered yang dapat dipelajari. Secret History bagaimana dunia ini diciptakan, bagaimana cerita Abraham sampai kenaikan Yesus kesurga. Mengandung pesan untuk diri kita yang membaca dan terdapat spiritual meaning di dalamnya. Oleh sebab itulah tulisan ini akan mengambil satu contoh yang baik dari Church Father yaitu Origen bagaimana membaca Secret History tapi dapat menemukan Christ Center di dalam Perjanjian Lama yang begitu indah.

Khotbah Origen

Kejadian 1:1 “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi”.

Di dalam Kejadian 1:1-3 dibacakan pada konteks paskah pada saat Yesus turun ke alam maut. Ini menunjukan bahwa Yesus akan menciptakan langit dan bumi yang baru melalui karyaNya. Origen ayat 1 menjelaskan apa yang dimaksud dengan “pada mulanya”? Siapa yang ada sebelum langit dan bumi? Sebenarnya pada mulanya berbicara tentang Kristus yang merupakan (Kol.1:15; 1Tim. 4:10). Allah pada mulanya menciptakan langit dan bumi menggunakan firmanNya yang adalah Yesus Kristus (Yoh. 1:1-3). Jadi Spiritual meaning pada mulanya berbicara mengenai Kristus bukan berbicara pada waktu tertentu Tuhan menciptakan langit dan bumi pada mulanya.

Kejadian 1:2 “Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air”

Syntactic Points

  1. Bumi belum berbentuk, kosong dan gelap gulita
  2. Roh Allah menuutpi permukaan air.

Sematic Conten

Pada ayat pertama menceritakan mengenai Allah menciptakan langit dan bumi sedangkan pada ayat 2 menyelaskan mengenai buminya. Ay. 3 “dan Allah berfirman jadilah terang dan terang itu jadi” Origen memberi tanggapan bahwabumi belum berbentuk dan tidak beraturan serta kacau sebelum Allah mengatakan jadilah terang dan sebelum Dia membagi terang dari kegelapan tapi kita dapat melihat Ia menciptakan cakrawala atau langit (ay.1). Sedangkan pada ayat 2 dikatakan bahwa “kegelapan menyelimuti jurang yang paling dalam” yang dimaksud jurang adalah tempat setan-setan dan malaikatnya ada (Wah. 12:9). Waktu kegelapan menutupi jurang itu Tuhan telah menciptakan malaikat dan malaikat itu jatuh. Dan ini juga yang dikatakan di dalam injil seperti yang tertulis di dalam Lukas 9:1 bahwa malaikat yang telah jatuh di dalam dosa meminta Allah untuk tidak membuang mereka ke dalam jurang kegelapan itu. Dari sini kita mau belajar bahwa jika Allah adalah terang maka kegelapan tidak ada. Yang menyebabkan kegelapan itu adalah para malaikat yang jatuh ke dalam dosa di dalam alam maut hal tersebutlah yang membuat manusia bisa jatuh ke dalam dosa. Ada di mana itu abbys atau jurang maut? Hal ini bersifat supranatural. Oleh karena itu Allah berkata di dalam ay. 3 “jadilah terang, maka terang itu jadi”. Dan Allah melihat terang itu baik. Dan Allah membangi antara gelap dan terang. Terang itu hari dan malam itu gelap. Dan ada malam dan ada terang itulah hari pertama (ay. 3-5).

Jadi hari pertama di dunia itu ketika terang dan gelap diciptakan Allah. Di dalam kejadian Allah menyebut siang itu terang dan malam itu gelap. Kenapa Allah menyebut pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi kemudian membagikan gelap dan terang. Tidak dikatakan hari pertama tapi satu hari (ay. 5)? Ini karena belum ada waktu atau waktu belum diciptakan. Tapi waktu ada mulai muncul pada hari berikutnya makanya disebut hari pertama, hari kedua, hari ketiga dan seterusnya. Jadilah cakrawala ditengah-tengah air dan Ia membagi air dari air dan allah menciptakan alam itu (Kej. 1:6-7), Allah menciptakan langit pada ayat 1 menunjukan takhta Allah (Yes. 66:1). Cakrawala yang diciptakan pada ay.6 merupakan pola dari pada cakrawala dimana takhta Allah berada. Ini mengingatkan kita bahwa bumi hanya seperti debu yang sangat kecil tidak sebanding dengan ciptaan Allah yang begitu Maha Besar. Di bumi Allah membagi air di atas cakrawala dan dibawah cakrawala (lihat Kej. 1:7) air yang dibawah cakrawala itu adalah lautan.

Segala sesuatu yang Tuhan ciptakan ada spirit dan body yaitu langit (spirit) sedangkan tubuh (body) itulah kenapa ada langit semua subtansi spiritual dimana Tuhan itu bertakhta. Dan langit dikatakan ritual kita dapat mengerti apa yang ada “diciptakan pada mulanya” itu menunjukan langit bahwa ada peniruan apa yang ada di langit jadi spirit dan bumi dimana langit merupakan takhta Allah sedangkan bumi tubuh kita. Cakrawala yang terdapat di dalam ay.7 diluar dari cakrawala di bawah.

Spiritual Meaning: Begitu juga manusia yang ditempatkan di dalam satu tubuh tetapi juga ada Roh dalam tubuh kita. Makanya kita juga disebut manusia surgawi terdapat di dalam Filipi 3:20 karena tubuh dan jiwa kita berasal dari sana.

Terdapat juga kata air yang dapat dibedakan antara air yang ada di dunia yang dapat membuat haus lagi sedangkan sumber air tidak dapat membuat harus lagi. Di dalam Kejadian 1: 7-8 terdapat cakrawala yang kelihatan dan diberi nama langit yang berbeda dengan langit yang tidak kelihatan. Jadi mari setiap kita sungguh-sungguh membedakan air yang ada di atas dan air yang ada di bawah dengan kita mau berpartisipasi di dalam air spiritual yang ditarik turun ke dalam kita untuk mendapatkan air kehidupan yang mengalir di dalam kita untuk memperoleh kehidupan kekal (Yoh. 7:38; 4:15). Air yang ada di bawah di jurang maut yang terdapat kegelapan adalah kerajaan iblis yang menjadi milik dari pangeran,naga dari dunia ini (Yoh. 12:31; 1Petr. 3:8; Wah. 12:7; 20:3) jadi kalau kita lihat air yang ada di dalam jurang menandakan kerajaan kegelapan maka dengan berpartisipasi dalam air yang ada di atas setiap orang percaya akan menjadi makhluk sorgawi karena mendapat air dari surga. Hal tersebut hanya terjadi ketika kita mau mengaplikasikan diri kita kepada hal-hal yang diatas bukan lagi di bumi (Kol. 3:1). Dan Allah melihat itu baik (ay. 8) air yang ada di bawah langit. Ay.9 terjadi daratan dan lautan artinya daratan ini menunjukan bahwa perbuatan-perbuatan daging kita yang pada akhirnya akan kelihatan, dan setiap perbuatan kita akan jelas dilihat. Jika itu tidak dipisahkan dari kita maka dosa tidak bisa mendekat kepada terang (Yoh. 3:20-21). Bagi Origen darat di dalam hidup kita adalah perbuatan jahat yang selalu ada di dalam kehidupan kita tapi kita harus ingat bahwa itu terpisah dari pada perbuatan baik. Spiritual meaning bumi adalah tubuh kita yang seharusnya berbuah bagi Allah jadi kalau tubuh kita berasal dari bumi tidak seharusnya kita menajadi orang yang seperti dry land yang pada akhirnya tidak akan menghasilkan buah melainkan kita mau menjadi earth yang pada akhirnya menghasilkan buah. Dry land adalah Orang yang tidak berbuah akan dipotong dan dibuang ke dalam api (Yes. 9:18; Yoh. 15:6). Sedangkan, Earth adalah orang yang berbuah banyak (Yoh. 15:5). Jadi kesimpulannya dryland menghasilkan duri sedangkan earth menghasilkan buah. Oleh sebab itulah kita harus selalu menempel pada pokok anggur agar supaya kita dapat berbuah banyak dan memuliakan Allah. Amin! 

Eksegesis Kejadian 3:21

Nama: Geralda Aprillia Salindeho

Mata Kuliah: Study Tafsir PB 4

Tugas: 4

Cara Mengeksegesis:

  1. Historia: Meneliti data teks Kitab Suci
  2. Syntactic Form
  3. Terjemahan Literal
  4. Syntactic Points
  5. Theoria: Menemukan Spiritual Meaning; Christ Centred, Ecclesial, dan personal
  6. Sematic Content (Penjelasan setiap ayat/ Sematic Content) dan Ecclesial church centeral.
  7. Konsep teologis (Teoloria, Didaskalia).
  8. Ringkasan dan correction.

Praktis

Adam adalah typology dari Yesus Kristus dimana menjadi model dan teladan dari manusia. Sama seperti melalui adam menjadi contoh pertama atau dia menjadi contoh dari kelahiran alami makanya manusia disebut satu tubuh atau satu nenek moyang menjadikan manusia sebagai keturunan dari Adam. Ketika manusia atau Adam jatuh ke dalam dosa Allah memberikan dia kulit binatang seperti yang terdapat didalam Kejadian 3:21 dimana terdapat hal yang sangat menarik mengenai kulit binatang yang Allah perkenankan dan pakaikan kepada Adam dan Hawa untuk dapat memakai agar tidak merasa malu akan ketelanjangannya yang diakibatkan dosa yang menghambat dirinya dan bagaimana karya Allah dinyatakan lewat kulit binatang yang Allah perkenankan untuk dapat dipakai.

Kejadian 3:21

καὶ ἐποίησεν κύριος ὁ θεὸς τῷ Αδαμ καὶ τῇ γυναικὶ αὐτοῦ χιτῶνας δερματίνους καὶ ἐνέδυσεν αὐτούς (Gen. 3:21 BGT)

וַיַּעַשׂ֩ יְהוָ֙ה אֱלֹהִ֜ים לְאָדָ֧ם וּלְאִשְׁתּ֛וֹ כָּתְנ֥וֹת ע֖וֹר וַיַּלְבִּשֵֽׁם׃ פ

 (Gen. 3:21 WTT)

Terjemahan Literal

Juga Tuhan Allah membuat untuk Adan dan istrinya pakaian kuliat dan memakaikan kepada mereka.

Also for Adam and his wife the Lord God made garments of skin, and clothed them (OSB)

Also for Adam and his wife the LORD God made tunics of skin, and clothed them. (NKJ)

Syntactic Points

  1. Tuhan Allah sendiri yang membuatkan pakaian dari kulir binatang untuk Adam dan Hawa, istrinya. Bahasa aslinya “membuat” χιτῶνας dalam bentuk aorist artinya lampau selesai. Pakaian dari kuliat binatang bahasa aslinya χιτῶνας δερματίνους atau   כָּתְנ֥וֹת ע֖וֹר artinya pakaian panjang atau jubbah yang terbuat dari kulit binatang.
  2. Tuhan sendiri yang menyebabkan mereka berpakaian atau memakaikan pakaian itu kepada mereka. Bahasa aslinya ἐνέδυσεν atau וַיַּלְבִּשֵֽׁם׃yang artinya secara kuasatif dalm bentuk hifil.

Sematic Conten

Pakaian kulit binatang menurut Tadros Y. Malaty yang mengutip Origen menyatakan, “The Fall has caused man to put on the garments of mortality and of frailty. These are the coats of skin (Gen 3:21) made by God for Adam and Eve when they were being expelled from Paradise.” Following Philo and the Gnostics, who had interpreted the coats of skin as bodies, Origen sees the Fall not simply as a moral but as a metaphysical event. The Fall means that man enters a world which is separate from God, and take son a dual nature of spirit and of flesh because he is now clothed in a physical body.”[1]

Menurut Efraim dari Siria, “Were these garments from the skins of animals? Or were they created like the thistles and thorns that were created after the other works of creation had been completed? Because it was said that the “Lord made … and clothed them,” it seems most likely that when their hands were placed over their leaves they found themselves clothed in garments of skin. Why would beasts have been killed in their presence? Perhaps this happened so that by the animal’s flesh Adam and Eve might nourish their own bodies and that with the skins they might cover their nakedness, but also that by the death of the animals Adam and Eve might see the death of their own bodies.”

Pakaian kulit binatang menunjuk pada kefanaan tubuh manusia sehingga manusia bisa mati sama seperti binatang yang dikorbankan atau dibunuh untuk diambil kulitnya. Efraim dari siriah mengatakan “Pakaian dari kulit binatang adalah pakaian yang dapat binasa karena dikorbankan dan dibunuh ini menandakan bahwa Adam sama dengan binatang yang dibunuh adam juga akan mengalami kematian secara jasmani”. Menurut origen ‘Kejatuhan manusia membuat manusia jatuh ke dalam dosa dimana manusia dipakaikan pakaian fana yang dipakaikan kepada Adam dan Hawa, pakaian tubuh binatang adalah tubuh bukan hanya moral tapi metafisik yang terpisah dari Allah dan akhirnya membuat spirit manusia terkukung di dalam tubuh fisik”. Pakaian kulit binatang menunjuk kepada kefanaan kehidupan manusia yang pada saat itu juga sudah dapat mati.

Teks ini juga dibaca pada minggu kedua pada masa Puasa Besar/Great Lent. Minggu kedua adalah minggu gregory palamas. Minggu tentang kasih karunia atau anugerah yang Tuhan berikan supaya kita menjadi serupa atau se-ikon dengan Kristus. Untuk menjadi serupa dengan Kristus kita membutuhkan pakaian anugerah. Pakaian anugerah adalah pakaian Kristus (Gal 3:27; Efe 4:24) yang dipakaikan ketika kita dibaptis atau menyatu dengan Kristus (lihat Rom 6:3-5) yaitu menyatu dengan kematian, penguburan, dan kebangkitan Kristus. Pakaian kulit binatang menjadi tipologi pakaian Kristus. Kalau pakaian kulit binatang yang dipakaikan kepada Adam menunjukan kefanaan tubuh atau kematian tubuh, maka pakaian Kristus menjadikan tubuh manusia menjadi tubuh kemuliaan yang tidak lagi takluk kepada kematian.

Outline Konsep Teologis

Kejadian 3: 21 yang merupakan Minggu kedua masa land St. Gregory Palamas menunjuk pada minggu tentang anugerah Allah membedakan antara essensi dan energy yang berkaitan dengan Yesaya 4:2-6;5:1-7; Gen. 3:21-4:7; Amsal 3: 34-4:22. Akan terdapat pakaian kasih karunia atau pakaian anugerah yang dipakaikan dan tidak akan binasa yaitu pakaian di dalam Yesus Kristus (Ef. 4:23-24). Jadi pakaian yang dipakaian Adam yaitu kulit binatang hanyalah typology dari pada pakaian Kristus yang digenapi di dalam Perjanjian Baru (Gal. 3:27). Ketika seseorang mau memakai pakaian Kristus harus dibabtis di dalam Kristus. Kata “ἐβαπτίσθητε” mengingatkan bahwa Allah memberikan Adam pakaian dari kulit binatang untuk menutupi kulit asli dari Adam dan bagaimana Yesus menggantikan dengan pakaian yang kekal melalui babtisan air (Rom. 6:3-5) yaitu menyatu dengan kematian, penguburan dan kebangkitan Kristus. Pakaian sebenarnya yang dapat melindungi kita dari pada panasnya hujan, api dan sebagainya itu menunjukan kepada pakaian Kristus (Yes. 4: 2-6). Orang yang rendah hati dia yang akan mewarisi kemuliaan tetapi orang yang tinggi hati akan memakai pakaian kebinasaan (Amsal. 3:34-4:).

Ringkasan (Personal)

Jadi marilah kita seperti Adam dan Hawa yang harus memakai pakaian Kristus untuk memperoleh hidup kekal. Pakaian yang Allah sendiri telah pakaikan kepada Adam dan Hawa seperti yang sudah Yesus kerjakan sendiri bagi kita semua melalui keselamatan yang Yesus kerjakan sendiri dan memakaikannya kepada semua orang yang mau untuk memiliki benih ilahi di dalamnya kemudian mau meresponi dengan iman serta anugerah yang Yesus telah sediakan bagi kita yang percaya dan mau untuk memakai pakaian kekal tersebut. Amin!


[1] Lectures in Patrology, 255.

Design a site like this with WordPress.com
Get started